Fahri Hamzah. (Medcom/M. Rizal)
Fahri Hamzah. (Medcom/M. Rizal)

Bertahan di Era Bamsoet

Medcom Files balada fahri hamzah
M Rodhi Aulia • 19 Januari 2018 15:36
Jakarta: Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pernah berseloroh mengenai sosok Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Ahok menyebut Fahri sebagai anggota parlemen paling hebat se-Indonesia.
 
Fahri, kata Ahok, adalah Wakil Ketua DPR independen. Padahal setiap anggota dewan itu pasti tergabung dalam salah satu fraksi.
 
Komentar itu muncul menyusul pemecatan Fahri dari seluruh jenjang keanggotaan di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada Maret 2016. Alhasil, Fahri pun otomatis terdepak dari fraksi PKS di DPR.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 

Bertahan di Era Bamsoet
Surat Keputusan Majelis Tahkim PKS tentang pemecatan Fahri Hamzah yang beredar di media sosial, Maret 2016.
Meski begitu Fahri tetap bertengger di kursi pimpinan DPR. Dia menegaskan dirinya masih kader PKS. Kendati di fraksi dan PKS ia dianggap bukan siapa-siapa lagi.
 
Ya. Pemecatan yang dikeluarkan DPP PKS digugat oleh Fahri. Pengadilan berulangkali memenangkan Fahri. Pemecatan terhadap dirinya dianggap tidak sah di mata hukum. Soal ini, Fahri ‘di atas angin’.
 
Fraksi PKS DPR telah berulang kali melayangkan nama pengganti Fahri sebagai Wakil Ketua DPR. Dia adalah Ledia Hanifa.
 
Terakhir, Fraksi PKS kembali melayangkan surat pada 11 Desember 2017. Lagi-lagi, surat bernomor 09/EXT/FPKS/DPRRI/12/2017 itu tak kunjung dibahas oleh pimpinan DPR.
 
PKS pun terpantau berulang kali bersuara dalam ruang paripurna. Mereka pun pernah walk out ketika Fahri menjadi pimpinan rapat.
 
Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengatakan, permintaan PKS agar Fahri dilengserkan dari pimpinan belum bisa dilakukan. Alasannya, Fahri memenangkan gugatan terkait pemecatannya di PN Jakarta Selatan dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.
 
"Jadi semua terhambat karena putusan pengadilan," kata Fadli.
 

Bertahan di Era Bamsoet
Fahri Hamzah. (ANTARA)
 

Ketua DPR baru
 
Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai jabatan Fahri di DPR tergantung Ketua DPR yang baru dilantik, Bambang Soesatyo (Bamsoet). Kemudian tergantung hubungan Fahri dengan fraksi lain di DPR.
 
Kalau hubungannya dekat, kata dia, mungkin masih bisa bertahan. Tapi kalau hubungannya tidak dekat mungkin lengser.
 
"Sepengetahuan saya hubungan Fahri dengan politisi lain itu relatif bagus. Jadi Fahri ini agak kontroversial, agak anomali, karena hubungan dengan partai lain bagus, tapi dengan partainya sendiri sangat bermasalah," kata Qodari kepada Medcom.id, Jumat 12 Januari 2018.
 

Bertahan di Era Bamsoet
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. (ANTARA)
 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi Batupahat meyakini pergantian Ketua DPR baru tidak akan memengaruhi posisi Fahri. Hasan mengakui bahwa kewenangan mengganti Fahri adalah fraksi PKS.
 
Namun, Hasan tidak melihat PKS dapat memengaruhi pimpinan DPR yang bersifat kolektif kolegial tersebut. Terlebih Fahri memenangkan gugatan dua kali di pengadilan.
 
"Bukan berarti ketua DPR baru, kemudian jalan (Fahri diganti). Fahri masih punya teman baiknya (di jajaran pimpinan). Ada Fadli Zon, Agus Hermanto dan Taufik Kurniawan. Yang menurut saya itu teman-temannya Fahri," kata Hasan kepada saat kami temui di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu, 10 Januari 2017.
 
Fahri Hamzah sendiri menegaskan bahwa dirinya tidak khawatir dengan perubahan suhu di pimpinan DPR. Dia optimistis posisinya tidak goyah meski digoncang upaya-upaya DPP PKS untuk menggantinya.
 
"Saya bukan pencari aman. Saya pencari kebenaran. Saya dijaga sama Allah SWT, sama malaikat," ujarnya sambil tersenyum saat kami temui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis, 11 Januari 2018.
 

Bertahan di Era Bamsoet
Taufik Kurniawan (kiri), Fadli Zon (tengah), dan Fahri Hamzah. (MI)
 

Lobi
 
Menurut Hasan Nasbi, bila PKS ingin mengganti Fahri, jangan terlalu mengandalkan aksi pemecatan dan langkah hukum. Lagi pula posisi Fahri saat ini ‘di atas angin’, dia sudah mengantongi putusan pengadilan yang mementahkan pemecatan dirinya sebagai kader PKS.
 
“Legitimasi dia (Fahri Hamzah) lebih kuat ketimbang keberatan partai," ucapnya.
 
PKS, sambung Hasan, perlu mencari alasan lain untuk menarik Fahri dari kursi pimpinan DPR. Pula Fraksi PKS, seharusnya lebih gencar melobi pimpinan DPR. Tanpa kemampuan lobi yang andal, surat fraksi akan terus diabaikan.
 
"Lobi pimpinan yang lain. Tidak cukup hanya dengan menulis surat," kata dia.

Kabar beredar PKS sudah melakoni lobi-lobi partai untuk mengganti Fahri. Langkah dukung mendukung calon kepala daerah di Pilkada serentak menjadi momentumnya.


“Saya dengar juga begitu. Kasihan juga ya. Tapi kalau saya tidak masalah. Ya, namanya juga usaha,” ujar Fahri.
 
Yang pasti, sambung Fahri, bila bicara aturan, pergantian pimpinan DPR itu harus kuat dasarnya. “Nggak ada yang namanya ditarik, nggak ada!”
 
Tidak banyak bicara, selain melobi parpol lain, DPP PKS pun tetap meladeni gugatan Fahri di pengadilan. Meski sudah dikalahkan di tingkat Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi, saat ini PKS kembali bersiap mengajukan kasasi.
 
"Sekarang belum (mengajukan)," kata Kepala Departemen Bidang Hukum dan HAM PKS Zainudin Paru singkat, Kamis, 11 Januari 2018.

 

(COK)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif