Ilustrasi
Ilustrasi

Pragmatisme, Kunci Keberhasilan Inovasi di Pasar ASEAN

Mohamad Mamduh • 04 Februari 2026 11:04
Ringkasnya gini..
  • Di tengah persaingan geopolitik teknologi global, ASEAN mengambil posisi netral.
  • Fondasi pragmatis inilah yang kemudian dirangkum dalam kerangka kerja VALUE, yang menjadi panduan bagi perusahaan di ASEAN.
  • Perusahaan yang berfokus pada eksekusi dan rekayasa solusi yang sesuai sebelum mencapai skala akan menjadi penentu digitalisasi kawasan.
Jakarta: Kawasan Asia Tenggara, yang dikenal sebagai salah satu pasar digital dengan pertumbuhan tercepat secara global, tengah memasuki babak baru dalam lanskap teknologi. Sebuah tinjauan pasar terbaru, AIBP ASEAN Enterprise Innovation Market Review 2025–2026, mengungkapkan bahwa inovasi di ASEAN memiliki ciri khas yang berbeda dari negara-negara maju: bukan didorong oleh ideologi atau sekadar meniru, melainkan oleh pragmatisme.
 
Laporan yang dirilis oleh ASEAN Innovation Business Platform (AIBP) ini menjelaskan bahwa di tengah persaingan geopolitik teknologi global—antara dorongan kontrol dari Amerika Serikat dan kecenderungan keterbukaan dari Tiongkok—ASEAN mengambil posisi netral.
 
Prioritas kawasan ini adalah inovasi yang praktis dan sadar konteks, yang benar-benar mendapatkan tempat di pasar dan masyarakat. Pragmatisme ini memastikan bahwa setiap keputusan teknologi diarahkan untuk meningkatkan daya saing, bukan malah menambah kompleksitas.

Inovator paling sukses di kawasan ini memprioritaskan solusi yang sesuai tujuan (fit-for-purpose), yang memenuhi kriteria biaya yang tepat, konteks yang tepat, dan hasil yang tepat. Fondasi pragmatis inilah yang kemudian dirangkum dalam kerangka kerja VALUE, yang menjadi panduan bagi perusahaan di ASEAN:
 
V - Vigilance in Cost Management (Kewaspadaan dalam Pengelolaan Biaya)
Kenaikan biaya komputasi dan energi telah mendefinisikan ulang makna "nilai" bagi perusahaan ASEAN.
 
Perusahaan mengharapkan solusi yang dapat melakukan lebih banyak dengan biaya yang lebih sedikit, mengotomatisasi dengan bijak, mengoptimalkan aliran data, dan membuktikan efisiensi per dolar yang dikeluarkan. Penyedia teknologi yang memahami total biaya kecerdasanlah yang akan memenangkan persaingan jangka panjang.
 
A - Aligning Innovation with ROI (Menyelaraskan Inovasi dengan ROI)
Dampak dari proyek inovasi diharapkan dapat terlihat dalam hitungan bulan, bukan tahun. Proyek-proyek yang mampu menghubungkan jangka waktu penerapan dan metrik laba atas investasi (ROI) secara langsung dengan hasil bisnis akan mengubah penyedia solusi menjadi mitra tepercaya, bukan sekadar vendor.
 
L - Localising for Cost and Value (Melokalisasi untuk Biaya dan Nilai)
Relevansi lokal adalah syarat pertama untuk memasuki pasar. Solusi harus mampu beradaptasi dengan keragaman budaya, regulasi, dan infrastruktur di ASEAN agar dapat membangun kredibilitas. Pendekatan lokalisasi ini seringkali menjadikan model solusi tersebut siap untuk diekspor ke pasar negara berkembang lainnya.
 
U - Utilising Collaborative Networks (Memanfaatkan Jaringan Kolaborasi)
Kolaborasi regional terus dipercepat, mulai dari integrasi rantai pasok hingga perjanjian regional seperti ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Mitra yang bersedia berinvestasi bersama dalam infrastruktur dan pengembangan keterampilan akan menemukan ekosistem yang siap untuk tumbuh bersama.
 
E - Embracing Sustainable Growth (Merangkul Pertumbuhan Berkelanjutan)
Agenda ESG (Environmental, Social, and Governance), keamanan siber, dan inovasi semakin diselaraskan di berbagai ekonomi ASEAN. Pertumbuhan yang bertanggung jawab, yang kini menjadi "izin" bagi kawasan ini untuk memimpin, bukan lagi sekadar pilihan.
 
Perusahaan yang berfokus pada eksekusi dan rekayasa solusi yang sesuai (fit) sebelum mencapai skala (scale) akan menjadi penentu bagaimana kawasan ini melakukan digitalisasi, dan dengan demikian, membangun solusi yang cukup tangguh untuk diterapkan di seluruh dunia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA