Ilustrasi: Medcom
Ilustrasi: Medcom

Benteng Terakhir Kubu Anis Matta

Medcom Files balada fahri hamzah
M Rodhi Aulia, Coki Lubis • 19 Januari 2018 17:22

Dalam dinamika PKS, Fahri Hamzah diposisikan sebagai orang dekat Anis Matta, mantan Presiden PKS sebelum Sohibul Iman.


Jakarta: Sudah menjadi rahasia umum; tatkala Sohibul Iman bertengger di pucuk eksekutif Partai Keadilan Sejahtera (PKS), kader-kader yang dinilai sebagai loyalis Anis Matta disingkirkan dari kepengurusan partai - dari pusat hingga daerah.
 
Fahri Hamzah merasa dirinya adalah salah satu yang perlu disingkirkan. Namun dia tidak menjadikannya itu sebagai masalah. Padahal, di rezim sebelumnya, Fahri adalah Wakil Sekretaris Jenderal PKS.
 
“Ya sudah, saya nggak masalah, nggak mengungkit-ungkit. Mungkin karena tradisi di PKS; yang menjadi pejabat publik, tidak masuk dalam kepengurusan partai. Saya belum berpikir yang macam-macam,” katanya saat berbincang santai dengan Medcom.id di ruang kerjanya, di Gedung DPR, Jakarta, Senin, 8 Januari 2017.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Namun dugaan pembersihan 'faksi' Anis menguat tatkala mendiang Taufik Ridlo tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatan Sekretaris Jenderal DPP PKS. Taufik kerap disebut-sebut bagian dari gerbong Anis.
Benteng Terakhir Kubu Anis Matta
Fahri Hamzah (kiri), Alm. Taufik Ridlo (tengah), dan mantan Presiden PKS Anis Matta. (ANTARA)
 

Kala itu, Sohibul mengungkapkan bahwa pengunduran diri Taufik semata-mata karena kesibukannya dalam dunia bisnis. Taufik, katanya, kesulitan menjalankan tugasnya sebagai Sekjen PKS.
 
Fahri menilai alasan tersebut bukan murni kemauan Taufik. “Dia (Taufik) ditukang-tukangi itulah, yang membuat dia itu sakit hati (mundur).”
 
Beberapa kader partai di DPP PKS yang memiliki posisi strategis juga mengalami perombakan. Demikian pula dengan Fraksi PKS di DPR.

Saat itulah sejumlah pengamat politik menyebut Fahri Hamzah sebagai benteng pertahanan terakhir kubu Anis Matta.


Soal si benteng terakhir kubu Anis Matta ini, PKS akhirnya mengeluarkan pernyataan pemecatan terhadap pria kelahiran Sumbawa, Nusa Tenggara Barat itu pada April 2016. Fahri dinilai melanggar AD/ART partai.
 
"Majelis Tahkim memutuskan melalui putusan No.02/PUT/MT-PKS/2016 menerima rekomendasi BPDO yaitu memberhentikan Saudara FH dari semua jenjang keanggotaan Partai Keadilan Sejahtera," jelas Sohibul Iman dalam keterangan resmi PKS pada 4 April 2016.
 

Benteng Terakhir Kubu Anis Matta
Surat Keputusan Majelis Tahkim PKS tentang pemecatan Fahri Hamzah yang beredar di media sosial, Maret 2016.
 

Tapi, menguatnya opini bersih-bersih faksi Anis Matta dari kepengurusan PKS dibantah Ketua Dewan Syariah PKS Surahman Hidayat. Dia menyatakan pemecatan Fahri dan perombakan tak ada hubungannya dengan 'bersih-bersih' dari kubu Anis Matta.
 
"Semua diputuskan dari hasil musyawarah. Nggak ada (kubu-kubuan)," ungkap Surahman kepada awak media yang memburu keterangan darinya pada 7 April 2016 lalu di Gedung DPR.
 
Pula Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid. Hidayat membantah dengan membuktikan hasil pemilihan kader calon pengganti Fahri di pimpinan DPR. Saat itu PKS mengajukan nama Ledia Hanifa.
 
"Ledia Hanifa jadi Wakil Komisi (VIII di DPR) karena dipilih Anis Matta. Ledia diterima teman-temannya Anis Matta. Ini hanya soal komitmen dan AD/ART partai berjalan," kata Hidayat, Jumat, 8 April 2016.
 

Benteng Terakhir Kubu Anis Matta
Ledia Hanifa. (ANTARA)
 

Namun, di mata Fahri Hamzah, sapu bersih loyalis Anis Matta memang dilakukan oleh Sohibul Iman. Dia pun menyampaikan pandangan Anis Matta dan Hilmi Aminuddin mengenai sikap Sohibul.
 
“Kalau mereka (Anis Matta dan Hilmi Aminuddin) sebetulnya menyayangkan kenapa ini terjadi. Seharusnya kan nggak perlu begini,” ujarnya.
 
Bagi Fahri dan Anis, peralihan kepemimpinan di PKS seharusnya mengedepankan dialog. “Beliau (Sohibul Iman) tidak menjalankan dialog. Langsung sapu saja. Semua disikat di DPP. Anis diganti, loyalisnya diganti. Kemudian DPW diganti.”
 

Benteng Terakhir Kubu Anis Matta
Mantan Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin (kanan) didampingi mantan Presiden PKS Anis Matta. (MI)
 

Konflik tertutup
 
Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi Batupahat mengatakan, pascapemecatan Fahri perkubuan di internal PKS semakin terlihat. Dia membaginya dengan ‘faksi Bandung’ dan ‘faksi Lembang’.
 
Faksi Bandung diposisikan sebagai kelompok elite PKS saat ini; Sohibul Iman, Suharna Surapranata dan Salim Segaf. Sementara faksi Lembang; Hilmi Aminuddin, Anis Matta, dan Fahri Hamzah.
 
"Sampai ke tingkat kabupaten/kota juga ada pembersihan pengurus. Faksi Lembang itu dibersihkan," kata Hasan saat kami temui di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu, 10 Januari 2017.
 
Menurut Hasan, aksi pembersihan itu merupakan konsolidasi internal; sebagaimana lazimnya kepengurusan baru agar terwujud kesamaan arah, strategi dan pengelolaan partai ke depan.
 
Pada sisi lain, Fahri, kata Hasan, alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) - yang kerap dianggap sebagai organisasi gerakan mahasiswa sayap (underbow) PKS. Otomatis KAMMI menjadi faksi yang juga dipetakan dekat dengan kubu Anis.
 
"Seratus persen seperti itu. Fahri sekarang satu-satunya harapan untuk bertahan. Fahri ini puncak semua alumni KAMMI. Geng KAMMI kan sekarang tersingkir yang sebagian besar ikut faksi Lembang. Semua alumni KAMMI itu ada di belakang Fahri. Dan dia buat gerakan keluarga alumni KAMMI," ucap dia.
 
Benteng Terakhir Kubu Anis Matta
Fahri Hamzah menyampaikan orasi politiknya saat Deklarasi Keluarga Alumni KAMMI di Jakarta, 24 April 2016. (ANTARA)
 

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari meyakini Fahri tidak berdiri sendiri. Banyak kader PKS yang berada di belakangnya.
 
"Mungkin tidak semua barisan Fahri yang berkonflik dengan kepengurusan sekarang. Mungkin konfliknya bersifat tertutup, bukan konflik terbuka seperti halnya Fahri," kata Qodari kepada Medcom.id, Jumat, 12 Januari 2018.
 
Menyoal perkubuan, Qodari mengaku tidak mengetahui ihwal faksi Bandung dan faksi Lembang. Dia justru membaginya menjadi moderat dan konservatif. Kelompok moderat adalah Anis Matta dan Fahri. Sedangkan konservatif adalah para elit PKS saat ini.
 
'Tapi menurut saya semuanya murid Hilmi Aminuddin (mantan Ketua Majelis Syuro PKS),” ucap dia.
Meski begitu Fahri enggan menyebut adanya perkubuan di PKS. Menurutnya, yang ada hanya perbedaan pandangan karena berbeda generasi. Bagi Fahri, di PKS ada generasi yang terlalu lama hidup di era tertutup di zaman Orde Baru. Kemudian ada generasi yang hidup lebih lama di era terbuka.
 
”Kayak saya dan Anis mewakili satu generasi baru yang melihat politik itu secara lebih rasional. Insting saya tentang politik, tentang negara, sudah terbuka. Sudah mengerti negara itu kerjanya bagaimana, pejabat bagaimana, saya paham. Itu yang menurut saya menyebabkan perbedaan pandangan di antara dua generasi ini,” jelas Fahri.
Sementara itu, sambungnya, sudut pandang generasi yang tertutup selalu menganggap ini masih seperti era Orde Baru, masa gerilya. “Makanya main-main belakang itu saya nggak suka.”
 
Satu hal lagi yang sulit disebut perkubuan, kata Fahri, perbedaan pandangan itu tidak terjadi di tingkat kader secara umum. “Pandangan (konservatif) itu hanya dipimpinan. Kalau kader ini siap bekerja, rasional.”
 

Benteng Terakhir Kubu Anis Matta
Presiden PKS Sohibul Iman (kedua kanan) bersama Ketua Majelis Syuro Salim Segaf Al Jufri (kedua kiri), Wakil Ketua Majelis Syuro Hidayat Nur Wahid (kanan), dan anggota Majelis Pertimbangan Partai (MPP) Tifatul Sembiring (kiri). (ANTARA)
 

***
 
Gelora perlawanan terhadap kepemimpinan Sohibul Iman kerap dihembuskan Fahri Hamzah di kalangan kader-kader muda.
 
Bagi Fahri, Sohibul berbahaya. Kepengurusannya sama sekali tidak memberi ruang untuk berbeda pendapat. Sedangkan kesalahan lainnya seperti kasus korupsi masih diberi ampun.
 
"Pokoknya, kalau mulai berbeda pendapat, dihabisi (karirnya). Tapi melakukan kesalahan lain, enggak. Mau kejahatan moral apa pun, dia enggak peduli. Itu menurut saya karena pimpinannya itu kerdil jiwanya," ucapnya.
 
Fahri juga merasa aneh bila elite PKS menganggap sikap kritisnya tak lebih dari sikap ‘nyinyir’. Padahal, kata Fahri, sikap serupa juga diperlihatkan Sohibul saat kepemimpinan Anis Matta. Dahulu Sohibul juga ‘nyinyir’, tapi tidak pernah diperlakukan seperti dirinya.
 
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI Firman Noor mengatakan perseteruan Fahri dengan PKS sejatinya berbeda dengan konflik seperti di internal partai lain.
 
"Sebetulnya level Fahri itu individu melawan partai. Dia tidak bisa disamakan ketika Golkar pecah. Karena Golkar kepengurusannya sangat lengkap eksis di seluruh Indonesia," kata Firman di kawasan Cikini, Kamis, 11 Januari 2018.
 
Dia juga mencontohkan perseteruan di internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Terakhir antara kubu Abdurahman Wahid versus kubu Muhaimin Iskandar.
 
Pula Firman meyakini perlawanan Fahri tidak akan mengganggu langkah partai ke depan. Apalagi sejauh ini Fahri tidak membangun struktur baru di internal PKS yang eksis di seluruh Indonesia. “Dia hanya defensif.”

 

(COK)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif