Ilustrasi. (Mediaindonesia.com).
Ilustrasi. (Mediaindonesia.com).

Kisah Wartawan yang Gagal jadi Pembunuh

Medcom Files pembunuhan kisah inspiratif
M Rodhi Aulia • 08 Agustus 2019 18:00
NUIM Mahmud Khaiyath merasa sudah di ambang pintu surga. Pasalnya ia sudah mencicipi mesin tik Remington; barang mewah bagi wartawan di zaman itu.
 
Jemarinya lincah menari-nari di atas papan ketik. Huruf demi huruf terasa enteng saat diketik. Jauh berbeda dengan yang ia gunakan sebelumnya, mesin tik bekas yang sudah lawas.
 
Pula Nuim mendapatkan fasilitas mobil antar-jemput dari kediamannya di sebuah gang bengkok di Medan, Sumatera Utara, -- ke kantor barunya di sebuah gedung di kawasan Serdang Mas. Fasilitas yang tak pernah didapatkan oleh wartawan selevel Redaktur Pelaksana manapun. Tapi, fasilitas 'wah' itu bukan dari The Deli Times, media cetak berbahasa Inggris tempat dia bertugas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 

Menerima misi

Suatu hari, Nuim dihubungi oleh seorang kawan lama, bernama Jaz. Ia dihubungi terkait keinginan Penguasa Perang Tertinggi (PEPERTI) melancarkan perang urat saraf terhadap rencana pembentukan Malaysia, melalui siaran radio. Saat itu memang tengah bergelora semangat Mengganyang Malaysia. Soekarno, Presiden RI saat itu, yang pertama kali menyerukan slogan 'Ganyang Malaysia' secara terbuka di Yogyakarta, 23 September 1963.
 
Nuim kebagian tugas lewat radio sebagai penyiar. Mafhum, kala itu, Nuim termasuk penyiar radio paling kondang. Nuim kemudian bertemu dengan Panglima Komando Antar Daerah (KOANDA) Jenderal Kosasih dan utusan PEPERTI dari Jakarta, Kolonel Arifin.
 
“Aku diminta sebagai penanggungjawab siaran bahasa Inggris dan Melayu. Berbagai arahan dan pedoman dibeberkan,” kata Nuim dalam bukunya, Asasin, yang kami kutip pada Rabu 7 Agustus 2019.
 
Dari sinilah Nuim menerima berbagai fasilitas yang ia anggap seolah sudah di ambang pintu surga. Mesin tik impor berikut kertas dengan kualitas tinggi serta kendaraan roda empat khusus untuk membawa dirinya mondar-mandir dari tempat kerja ke tempat tinggalnya.
 
Bahkan, ia tidak harus repot-repot mencari bahan siaran. PEPERTI menyiapkan banyak bahan propaganda demi mengganyang Malaysia. Termasuk sekumpulan tudingan negatif yang siap dilancarkan terhadap Perdana Menteri Malaya kala itu, Tunku Abdurrahman.
 
Nuim harus mampu mengolah bahan tersebut sedemikian rupa agar terdengar nyambung ketika siaran itu mendarat di telinga para pendengar, terutama oleh Orang Melayu di Malaya. Siaran itu dilakukan dua kali dalam sehari: menjelang larut malam dan pagi buta.
 
Dalam siarannya, Nuim disuruh mengaku seolah-olah menyiarkan dari tengah hutan-hutan Semenanjung Tanah Melayu. Padahal disiarkan dari tengah kota. Namun kantor mereka harus berpindah-pindah untuk menghindari pelacakan intelijen terutama Inggris dan Amerika saat itu.
 
Pasalnya dua negara itu berencana menggabungkan Malaya, Singapura, Serawak dan Sabah menjadi sebuah negara bernama Malaysia. PEPERTI menilai rencana itu bagian dari upaya mengekalkan penjajahan Inggris dalam bentuk lain, sekaligus mengepung Indonesia yang begitu gigih memperjuangkan kemerdekaan untuk seluruh bangsa di dunia.
 
“Awalnya Kolonel Arifin (utusan PEPERTI) cukup puas dengan hasil (perang) urat syaraf itu,” ujar Nuim.
 
Ditambah dengan Tunku Abdurrahman yang tiba-tiba angkat suara. Setelah berbulan-bulan dihujani tudingan miring melalui siaran radio. Tunku menyangkal siaran itu dilancarkan dari tengah hutan. Tunku menyebut siaran itu dilakukan dari Pekanbaru.
 
Sontak Nuim begitu bangga, bahkan mendekati pongah. Sebabnya ia merasa mampu menipu Tunku yang memiliki segudang kemampuan. Termasuk dukungan intelijen Inggris yang mentereng dalam perang dunia kedua. Belakangan Tunku dan Inggris, tahu yang sebenarnya.
 

Dipersiapkan

Pertengahan 1963, Nuim diajak ikut ke sebuah pertemuan di Kantor KOANDA, Medan. Hadir dalam pertemuan itu Jenderal Kosasih, Kolonel Arifin dan Jaz.
 
Dalam pertemuan itu, Arifin menilai perang urat saraf melalui radio tidak cukup untuk menyabotase pembentukan Malaysia. Lantas, Arifin merencanakan pembunuhan Tunku Abdurrahman. “Harus dihabisi,” kata Nuim menirukan ucapan Arifin.
 
Semula Nuim santai. Tidak ada firasat apapun saat mendengar rencana pembunuhan tersebut. Tapi badan Nuim tiba-tiba menggigil. Rasanya lebih-lebih dari demam malaria yang kerap ia idap.
 
Rupanya, di dalam pertemuan itu, Nuim mendapat tugas baru. Dialah yang ditunjuk sebagai pembunuh. Misinya membunuh Tunku Abdurrahman.
 
Mendengar perintah itu, sontak badan Nuim lemas, nyaris tersungkur. Nuim dianggap paling cocok ditugaskan membunuh Tunku.
 
Lisan Nuim yang biasanya lincah sebagai penyiar, tak mampu mengeluarkan kalimat apapun. Ia merasa diberondong peluru tanpa ampun. Belum sempat ia menanggapi perintah itu, ia diminta menyiapkan diri.
 
“Akan kita tentukan nanti, apakah saudara akan didaratkan dengan kapal selam atau diterjunkan dari udara di Malaya. Pastinya saudara akan dilatih hingga mampu dan sanggup,” kata Nuim menirukan ucapan Arifin.
 
Arifin memanfaatkan tampang Nuim yang tidak terlalu mirip orang Indonesia sebagai pertimbangan penugasan tersebut. Selain itu, tubuh yang ideal, kemampuan menembak dan berbahasa asing (Inggris, Melayu, Hokien dan Arab)--menjadi poin lebih.
 
“Waktu itu, mengganyang Malaysia memang sudah disepakati secara nasional sebagai tugas suci yang harus diutamakan di atas segala tugas lainnya,” tegas Nuim.
 
Sejak saat itu, Nuim menjalani hari-harinya dengan rasa was-was. Nuim dihantui seolah bayangan detik-detik didaratkan atau diterjunkan dari ketinggian tertentu di atas hutan-hutan semenanjung Malaya.
 

Berangkat ke London

Nuim kembali menjalani rutinitasnya sebagai redaktur di Deli Times, dosen di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), dan Sekretaris Umum Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) cabang Sumatera Utara.
 
Dalam kapasitasnya sebagai pengurus olahraga renang tersebut, Nuim bisa bernapas lega. Ia memiliki kesibukan hingga mendampingi para perenang Sumatera Utara untuk ikut dalam berbagai perlombangan tingkat nasional. Kesibukan demi kesibukan ini, Nuim merasa terbebas dari keharusan menjalani latihan menjadi asasin alias pembunuh bayaran.
 
Sembari menjalani rutinitas itu, Nuim diam-diam melamar sebagai penyiar berbahasa Indonesia di Badan Siaran Inggris alias BBC London, Inggris. Meski diwarnai beberapa drama dalam menjalani rangkaian seleksi, Nuim akhirnya lolos. Dia bersaing dengan 711 pelamar lainnya.
 
Di sisi lain, misi khusus dari PAPERTI tak kunjung ada kabar lagi. Tapi Nuim masih saja was-was. Bahkan hingga di detik-detik Nuim terbang ke London via Bangkok, meninggalkan Indonesia.
 
Rasa was-was itu lantaran khawatir pihak PEPERTI mengetahui rencananya pergi ke London. Nuim khawatir gagal terbang dan kemudian dijebloskan ke jeruji besi karena dicap sebagai pengkhianat.
 
Tapi berkat dorongan salah seorang teman, Nuim meneguhkan hati melangkahkan kaki menuju badan pesawat. Setibanya di dalam pesawat, ia masih gelisah. Karena merasa pintu pesawat terlalu lama ditutup.
 
Nuim membayangkan sekelompok petugas kembali menyeretnya keluar dari pesawat. Hatinya berdebar-debar dan darahnya tersirap-sirap. Namun akhirnya pesawat itu lepas landas dan mendarat di heathrow, London, dengan selamat.
 
“Ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, tahu-tahu sudah di ambang pintu. Dan aku ditugaskan untuk meliputnya,” ujar Nuim setelah beberapa hari bekerja di BBC.
 
Hingga Naim purnatugas dari BBC, kabar misi pembunuhan sudah tak terdengar lagi hingga sekarang.
 
Kepada Medcom Files, Nuim menceritakan ada maksud di balik kisahnya sebagai wartawan yang pernah dipersiapkan sebagai pembunuh. Menurut dia, cara-cara seperti pembunuhan, itu tidak elok. Yang dikedepankan haruslah cara-cara yang lebih elegan: kemampuan lobi dalam mempengaruhi sesuatu.
 
Soal ini, Naim ingat betul dengan penyataan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill yang pernah berkata; To jaw-jaw is better than to war-war.
 
"Artinya rahang dalam hal ini maksudnya bicara (diplomasi) lebih baik daripada prahara (perang),” katanya kepada kami, Rabu 7 Agustus 2019.
 
Apalagi kata dia, keadaan sekarang jauh berbeda dari masa lampau. Wartawan saat ini dinilai lebih bebas. Tidak seperti saat Nuim dulu yang serba terbatas.
 

Kisah Wartawan yang Gagal jadi Pembunuh
Wartawan senior NUIM Mahmud Khaiyath di Depok, Jawa Barat. (M Rodhi Aulia).
 

 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif