Ilustrasi: Medcom
Ilustrasi: Medcom

Menjadi Tumbal PKS

Medcom Files balada fahri hamzah
M Rodhi Aulia • 19 Januari 2018 16:22

Selain soal ‘perkubuan’, Fahri Hamzah menduga pemecatannya dari PKS, juga desakan mundur dari pimpinan DPR, terkait tekanan politik dari luar PKS yang berkolaborasi dengan motif pribadi. Lantas dirinya menjadi tumbal.


Jakarta: Mulutmu Harimaumu. Demikian pepatah yang kerap disampaikan terkait seseorang yang merugi karena tak bisa menjaga lisannya. Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah salah satunya, seperti yang dilontarkan mantan politikus Partai Demokrat Ruhut Sitompul.
 
Komentar Ruhut ini terkait pemecatan yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terhadap Fahri, pada April 2016.
 
Pembangkangan menjadi kata kunci sehingga Fahri dipecat dari partai yang turut dia dirikan 20 tahun silam. Tak tanggung-tanggung, Fahri dipecat dari seluruh jenjang keanggotaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 

Menjadi Tumbal PKS
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah. (Medcom)
DPP PKS sejak awal sudah memberikan arahan kepada Fahri agar dapat menjaga lisannya di depan publik pada September 2015, sedangkan versi Fahri pada 10 Oktober 2015. Arahan itu adalah; penyataan Fahri di depan publik tidak boleh berseberangan dengan kebijakan atau sikap resmi partai.
 
Tak hanya itu, ucapan Fahri lainnya yang disoroti adalah penyebutan ‘rada-rada bloon’ untuk para anggota DPR. Kemudian Fahri mengatasnamakan DPR telah sepakat untuk membubarkan KPK, dan pasang badan untuk tujuh proyek DPR.
 
"Hal tersebut bukan merupakan arahan pimpinan partai," kata Presiden PKS Sohibul Iman saat itu - dikutip dari laman pks.id.
 
Fahri pun sempat diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pimpinan DPR, dan akan dirotasi ke alat kelengkapan dewan yang lain.
 
Pria kelahiran Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ituogah menuruti permintaan DPP PKS; yang terdiri dari Ketua Majelis Syuro Salim Segaf Aljufri, Wakil Ketua Majelis Syuro Hidayat Nur Wahid, dan Presiden PKS Sohibul Iman.
 
Puncaknya pada April 2016, DPP resmi mengumumkan pemecatan Fahri dari PKS. Namun pemecatan itu terus dilawan Fahri, hingga saat ini.
 

Menjadi Tumbal PKS
Presiden PKS Sohibul Iman. (ANTARA)
 

Bola panas
 
Seiring munculnya surat pemecatan atas dirinya, Fahri yang tak mau mengalah justru melempar bola panas. Gejolak di PKS semakin menjadi.
 
Fahri menyebut ada mantan menteri dari PKS yang ditekan untuk melengserkan dirinya dari kursi pimpinan DPR. Semua serangan terhadap dirinya, kata Fahri, sudah didesain.
 
“Ditekan-tekan. Supaya kalau saya nggak dikeluarkan, mantan menteri ini akan kena sasaran karena dia pernah menjabat dan ada kasusnya," ungkap Fahri saat kami temui, Kamis, 11 Januari 2018.

Dugaan itu diklaim Fahri dari pernyataan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf. Saat itu, Salim bertemu dengan dirinya pada 23 Oktober 2015. Salim meminta pembicaraan saat itu dirahasiakan.


"Jadi kisahnya, ketua majelis syuro itu mengkhawatirkan sikap kritis saya kepada pemerintah, akan membahayakan para pejabat PKS yang pernah menjadi pejabat publik, pernah menjabat sebagai menteri, yang menurut beliau pasti pernah berbuat kesalahan," kata Fahri.
 
Fahri menyebutkan para pejabat PKS yang sempat menjadi menteri itu adalah Salim Segaf sendiri. Ketua Majelis Syuro PKS itu adalah mantan Menteri Sosial. Ada pula mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring. Keduanya adalah kabinet di era SBY.
 
Selain itu, ada juga nama mantan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, dan mantan Menteri Pertanian Suswono.
 

Menjadi Tumbal PKS
Salim Segaf Al-Jufri, Mantan Menteri Sosial - Ketua Majelis Syuro PKS. (ANTARA)
 

"Saya yang tidak bersalah dipersalahkan karena ada orang lain yang punya masalah. Kenapa bukan orang lain yang harus mundur,” sesalnya. “Jadi itu logika yang tidak bisa saya terima."
 
Meski demikian Fahri tidak membeberkan secara detail kesalahan apa yang dimaksud. Fahri hanya meyakini pemecatannya berkaitan dengan kekhawatiran elit PKS yang pernah menjadi pejabat publik, dan kini ‘tersandera’.
 
Lantas, siapa yang menyandera? Fahri tidak mau menyebutnya secara gamblang. Yang pasti, kata Fahri, dirinya dinilai terlalu kritis terhadap pemerintah, dan boleh jadi dianggap penghambat di 'Senayan'.
 

Cuek
 
Ketua Bidang Humas DPP PKS Dedi Supriadi menegaskan bahwa pemecatan Fahri dari PKS sudah final. Bahkan pihaknya tidak lagi meladeni apapun pernyataan yang terlontar dari mulut Fahri.
 
"Dia mau ngomong apa saja nggak apa-apa. Karena itu hak dia. Terserah dia. Dia sudah dipecat dari seluruh jenjang keanggotaan. Kita sekarang kerja untuk ke depan. Lagi mengejar target. Kita tidak mau (merespons)," kata Dedi kepada Medcom.id, Jumat, 12 Januari 2018.
 

Menjadi Tumbal PKS
Ketua Bidang Humas DPP PKS Dedi Supriadi. (MI)
 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai kekhawatiran Salim seperti yang diklaim Fahri sebenarnya tidak beralasan. Toh, PKS faktanya bukan partai pendukung pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla.
 
"Tidak ada hubungannya. Kalau menteri-menteri itu masih dalam kabinet, dan Fahri suaranya berbeda dengan kabinet, itu masuk akal. Tapi kalau sudah mantan tidak," kata Qodari di hari yang sama.
 
Senada, Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi Batupahat mengatakan, tudingan Fahri sulit dibuktikan. Pula, setelah hampir dua tahun PKS belum berhasil menggesernya, tidak terjadi apa-apa soal sandera-menyandera kasus - seperti dugaan Fahri.
 
"Kalau ada kasus, diangkat saja,” ujar Hasan kepada Medcom.id, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu 10 Januari 2017.
 
“Tapi, sekarang kan PKS gagal mengganti Fahri. Tidak diangkat juga kasus (kesalahan mantan menteri dari PKS) itu. Berarti alasan itu tidak terbukti dong," pungkasnya.

 

(COK)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif