Akun Facebook John Smith membagikan cuplikan video itu pada Senin, 19 Juli 2021. Disebutkan, ada banyak laporan kematian akibat vaksin Covid-19.
"This brave woman is a WHO whistleblower…the jib jabs not safe…how many medical experts need to tell you until you start paying attention"
(Wanita pemberani ini adalah pelapor WHO... vaksin tidak aman... berapa banyak ahli medis yang harus memberitahumu sampai kamu mulai memperhatikan).
Penelusuran:
Dari hasil penelusuran, klaim bahwa adanya dari dari EMA menyebut 18.000 kematian akibat vaksin Covid-19 adalah salah. Faktanya, tidak ada hubungan antara 18.000 kematian dengan vaksin covid-19.
Dilansir dari AFP, laporan kematian setelah vaksinasi berdasarkan database EMA bukanlah bukti hubungan antara keduanya, dan meskipun efek samping yang serius setelah vaksinasi telah dicatat, hal tersebut jarang terjadi. Juru bicara EMA mengatakan bahwa masalah medis atau kematian setelah seseorang disuntik vaksin tidak berarti bahwa kematian tersebut dipicu oleh suntikan vaksin.
"Ini mungkin disebabkan, misalnya, oleh masalah kesehatan. tidak terkait dengan vaksinasi. Untuk sebagian besar obat-obatan, sebagian besar efek samping yang dicurigai pada akhirnya tidak dikonfirmasi sebagai efek samping." kata curu bicara EMA
Potongan video yang dibagikan itu merupakan klip wawancara Astrid Stuckelberger, seseorang yang pernah membuat kehebohan karena klaim hoaks soal sejumlah tindakan medis. video-videonya pernah dihapus oleh YouTube pada tahun 2020 karena mengabarkan berita-berita bohong.
![[Cek Fakta] Benarkah 18 Ribu Orang Meninggal setelah Divaksin Covid-19? Begini Faktanya](https://cdn.medcom.id/images/library/images/Screen%20Shot%202021-08-17%20at%2017_11_44.png)
Kesimpulan:
Klaim bahwa adanya dari dari EMA menyebut 18.000 kematian akibat vaksin Covid-19 adalah salah. Faktanya, tidak ada hubungan antara 18.000 kematian dengan vaksin covid-19.
Informasi ini masuk kategori hoaks jenis misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
![[Cek Fakta] Benarkah 18 Ribu Orang Meninggal setelah Divaksin Covid-19? Begini Faktanya](https://cdn.medcom.id/images/library/images/WhatsApp%20Image%202020-08-07%20at%2018_30_14-6(220).jpeg)
Referensi:
https://factcheck.afp.com/http%253A%252F%252Fdoc.afp.com%252F9GT864-1
https://www.facebook.com/billybobu.507777/posts/10164961870385212
*Kami sangat senang dan berterima kasih jika Anda menemukan informasi terindikasi hoaks atau memiliki sanggahan terhadap hasil pemeriksaan fakta, kemudian melaporkannya melalui surel cekfakta@medcom.id atau WA/SMS ke nomor 082113322016
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News