Kanal Bossman Mardigu membagikan video itu pada 29 Juli 2021. Video itu menarasikan bahwa di Amerika Serikat, kekebalan kelompok terhadap Covid-19 lebih dari 49,1 persen dari ditambah yang sudah divaksin sebanyak 13,7 persen populasi, maka Amerika saat ini sudah mendekati herd immunity yang mencapai 62,8 persen.
"XI JINPING GAK VAKSIN?! WUHAN SEMBUH SEBELUM ADA VAKSIN?! LOH KOK KITA BELI VAKSIN?" judul video tersebut.
Penelusuran:
Dari hasil penelusuran, klaim bahwa vaksinasi bukan soluasi mengendalikan pandemi melainkan herd immunity alami adalah salah. Informasi ini sudah dilkarifikasi Kementerian Kesehatan. Dilansir Kominfo, berikut klarifikasi terkait klaim tersebut:
Solusi mengendalikan pandemi adalah herd immunity alami bukan vaksin adalah keliru. Herd immunity atau kekebalan kelompok adalah adanya perlindungan dari penyakit infeksi secara tidak langsung saat mayoritas populasi memiliki kekebalan yang bisa didapat baik dari infeksi alami atau vaksin. Persentase orang yang harus memiliki kekebalan bervariasi pada tiap penyakit tergantung respon imun, efikasi vaksin, dan faktor-faktor lain.
Membiarkan masyarakat terpapar alami dengan infeksi Covid-19 untuk mencapai herd immunity diperkirakan harus >70% populasi sakit dengan berbagai umur dan status kesehatan, akan meningkatkan angka kesakitan dan kematian ditambah lagi bila fasilitas kesehatan tidak memadai, akan terjadi kolaps dan semakin meningkatkan kematian baik dari populasi dengan sakit Covid-19 dan bukan Covid-19.
Belum ada bukti secara ilmiah herd immunity bisa terbentuk secara alami karena masih minimnya pengetahuan juga mengenai respon imun tubuh terhadap virus SARS-CoV-2 (seberapa kuat dan berapa lama imunitas bertahan) dan sulitnya mengukur perilaku manusia. Selain itu, secara moral/etik sangat bertentangan karena harus membiarkan manusia sakit dan meninggal terutama populasi rentan. Sedangkan dengan vaksinasi, meskipun terjadinya herd immunity juga masih sulit diperkirakan, paling tidak akan mengurangi risiko kesakitan dan kematian terutama pada populasi “rentan”.
Dilansir Media Indonesia, Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla mengatakan konsep herd immunity atau kekebalan kelompok dalam menghadapi pandemi covid-19 bukan langkah tepat. Jika mengandalkan herd immunity, maka akan memakan banyak korban.
“Bisa saja ini dilakukan, cuma korbannya bakal banyak,” sebut Kalla dalam diskusi Segitiga Virus Corona.
Kalla memberikan contoh penerapan herd immunity di Swedia yang akhirnya menjadi bumerang. Swedia tidak melakukan lockdown dan tingkat kematian di negara itu lima kali lipat angka di negara sekitar mereka akibat mencoba herd immunity. Menurutnya, mengubah perilaku hidup bersih dan sehat seperti menggunakan masker dan rajin mencuci tangan masih solusi terbaik.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi RSCM Sukamto Koesnoe menegaskan herd immunity tidak efektif jika belum ada vaksin yang terbukti efektif menimbulkan kekebalan atau mencegah orang terjangkit infeksi covid-19. Kalau konsep yang dipakai ialah ‘dibiarkan’ kekebalan alami yang didapat dari alam, imbuhnya, kita sebenarnya sedang bertaruh.
Kita berharap orang yang kuat tidak akan sakit karena kemampuan tubuh membentuk antibodi atau imunitas naik, dan akan muncul antibodi karena terinfeksi. “Sementara yang lemah akan ‘dibiarkan’ jatuh sakit. Padahal, kita juga belum punya bukti bahwa yang pernah sakit atau terinfeksi tidak akan pernah terinfeksi lagi,” paparnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan konsep herd immunity dalam menghadapi pandemi covid-19 karena berbahaya.
![[Cek Fakta] Vaksinasi Bukan Solusi Mengendalikan Pandemi Melaikan <i>Herd</i> <i>Immunity</i> ? Ini Faktanya](https://cdn.medcom.id/images/library/images/Screen%20Shot%202021-08-13%20at%2009_02_29.png)
Kesimpulan:
Klaim bahwa vaksinasi bukan soluasi mengendalikan pandemi melainkan herd immunity alami adalah salah. Informasi ini sudah dilkarifikasi Kementerian Kesehatan.
Informasi ini masuk kategori hoaks jenismisleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
![[Cek Fakta] Vaksinasi Bukan Solusi Mengendalikan Pandemi Melaikan <i>Herd</i> <i>Immunity</i> ? Ini Faktanya](https://cdn.medcom.id/images/library/images/WhatsApp%20Image%202020-08-07%20at%2018_30_14-6(216).jpeg)
Referensi:
1. https://www.kominfo.go.id/content/detail/36328/hoaks-solusi-mengendalikan-pandemi-adalah-herd-immunity-alami-bukan-vaksin/0/laporan_isu_hoaks-
2. https://mediaindonesia.com/humaniora/314503/herd-immunity-bukan-solusi-tepat
3. https://www.youtube.com/watch?v=WEMmJ09j_eU&t=196s
*Kami sangat senang dan berterima kasih jika Anda menemukan informasi terindikasi hoaks atau memiliki sanggahan terhadap hasil pemeriksaan fakta, kemudian melaporkannya melalui surel cekfakta@medcom.idatau WA/SMS ke nomor 082113322016
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News