Salah satu model yang kini banyak digunakan adalah Seedance 2.0, generator video AI yang dirancang untuk menghadirkan hasil cepat dengan kontrol yang lebih terarah.
Bagi kreator yang kerap mendapati hasil video melenceng dari ide awal, penggunaan prompt yang tepat menjadi kunci. Melalui pendekatan yang lebih terstruktur, Seedance 2.0 memungkinkan pembuatan video yang lebih konsisten dan mudah diulang.
Seedance 2.0 dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan, mulai dari pemula hingga profesional. Kreator konten short-form di TikTok, Reels, dan YouTube Shorts dapat memanfaatkan model ini untuk produksi cepat. Marketer juga bisa menggunakannya untuk membuat video produk atau promosi bergaya lifestyle.
Tak hanya itu, pembuat film, gim, maupun komik juga dapat menggunakan Seedance 2.0 untuk kebutuhan previsualisasi atau simulasi adegan sebelum masuk tahap produksi.
Memahami Cara Kerja Model
Agar hasil video lebih sesuai ekspektasi, pengguna perlu memahami cara kerja dasar model. Seedance 2.0 bekerja optimal ketika prompt mampu menjawab lima pertanyaan utama:1.Apa yang terlihat? (subjek dan lokasi)
2.Apa yang terjadi? (aksi utama)
3.Bagaimana direkam? (jenis shot dan pergerakan kamera)
4.Seperti apa suasananya? (gaya visual dan pencahayaan)
5.Bagaimana alurnya? (tempo atau ritme adegan)
Kesalahan umum biasanya terjadi karena prompt terlalu kompleks atau memuat terlalu banyak aksi dalam satu adegan. Padahal, model lebih mudah memahami deskripsi yang fokus pada satu shot, bukan rangkaian cerita panjang.
Tutorial Singkat Text-to-Video
Berikut langkah cepat untuk membuat video dengan Seedance 2.0:1. Pilih Mode Text-to-Video (T2V)
Mode ini paling fleksibel untuk eksplorasi awal. Cocok bagi pengguna yang belum membutuhkan konsistensi karakter yang rumit.
2. Tentukan Format Video
Pilih rasio aspek sesuai platform:
9:16 untuk TikTok dan Reels
16:9 untuk YouTube
1:1 untuk feed Instagram
Durasi ideal untuk uji coba berkisar 5–10 detik agar lebih mudah dikontrol.
3. Gunakan Struktur Prompt yang Jelas
Prompt sebaiknya disusun dengan pola terstruktur agar model tidak “menebak” terlalu banyak elemen.
4. Buat Beberapa Versi
Disarankan membuat 2–4 variasi untuk membandingkan gerakan kamera, komposisi, dan tempo.
5. Lakukan Iterasi Bertahap
Ubah satu elemen setiap kali mencoba ulang, misalnya hanya mengganti gaya pencahayaan atau menambahkan pergerakan kamera. Cara ini membantu menemukan kombinasi paling efektif.
Struktur Prompt yang Disarankan
Agar hasil lebih konsisten, pengguna bisa mengikuti formula berikut:Subjek + Setting → Aksi → Kamera → Gaya/Pencahayaan → Tempo/Batasan → (Opsional) Negatif
Contoh sederhana: “Medium close-up barista di kedai kopi remang dengan ambience malam, uap kopi terlihat jelas saat latte art dituangkan perlahan, slow dolly-in dengan sedikit handheld cinematic feel, pencahayaan tungsten hangat kontras dengan bayangan lembut, suasana intim dan dramatis, single continuous shot, tanpa teks overlay, tanpa pergantian adegan.”
Struktur ini membantu model memahami adegan secara utuh dan meminimalkan kesalahan interpretasi.
Gunakan Referensi untuk Konsistensi
Pada beberapa antarmuka, Seedance 2.0 mendukung penggunaan referensi aset, seperti karakter atau lokasi tertentu. Kamu dapat menandainya dengan format @NamaAset untuk menjaga konsistensi visual.Fitur ini berguna saat membuat serial konten dengan karakter atau produk yang sama di beberapa video.
Kunci Utama
Dalam praktiknya, Seedance 2.0 akan memberikan hasil terbaik jika prompt dirancang seperti arahan sutradara. Fokus pada satu adegan, satu aksi utama, serta satu gaya visual yang konsisten.Dengan pendekatan terstruktur dan iterasi bertahap, kreator dapat menghasilkan video AI yang lebih bersih, stabil, dan siap dipublikasikan.
Bagi yang ingin bereksperimen, model ini dapat langsung diuji melalui platform yang menyediakan akses Seedance 2.0 untuk melihat bagaimana perubahan kecil dalam prompt dapat memengaruhi hasil akhir video.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News