Model video terbaru mereka, AI Seedance 2.0, resmi mengudara di platform Jimeng menjanjikan solusi bagi kreator yang selama ini frustrasi dengan ketidakpastian hasil video AI. Bagi pengguna berbayar, akses langsung diberikan, sementara pengguna gratis diberikan kuota harian melalui sistem poin di platform tersebut.
Dikutip dari eu.36kr.com, AI Seedance 2.0 memungkinkan pengguna untuk menggabungkan gambar, video, audio, dan teks untuk menghasilkan "konten sinematik" dengan "kemampuan referensi yang tepat, perpanjangan video yang mulus, dan kontrol bahasa secara alami".
AI Seedance 2.0 bisa menghapus kemunculan tanda karya AI seperti jari yang kabur, kulit yang terlalu halus dan tidak realistis, serta perubahan yang tidak dapat dijelaskan dari bingkai ke bingkai.
AI Seedance 2.0 juga berhasil membuat pengguna keluar dari kerumitan teknis seperti workflow ComfyUI yang membingungkan bagi orang awam.
Model AI Seedance 2.0 memungkinkan ekspor dalam 2k dengan generasi 30% lebih cepat daripada versi sebelumnya 1.5, demikian tertulis di situs web perusahaan.
Bahkan konsultan yang berbasis di Swiss, CTOL, menyebutnya sebagai "model generasi video AI paling canggih yang tersedia", "melampaui Sora 2 dari OpenAI dan Veo 3.1 dari Google dalam pengujian praktis".
Sinkronisasi Audio-Visual yang Revolusioner
Salah satu lompatan terbesar dalam versi 2.0 ini adalah kemampuan Native Audio. Jika sebelumnya model video hanya menghasilkan gambar bisu atau suara tambahan yang terasa tempelan, AI Seedance 2.0 mampu memahami konteks visual untuk menciptakan audio yang presisi.Dalam pengujian simulasi video kereta api tua, model ini tidak hanya menampilkan visual ladang yang melintas, tetapi juga menghasilkan ritme frekuensi rendah dari roda kereta yang melindas rel, serta detail riak air di gelas yang bergetar. AI ini tampaknya mulai memahami hukum fisika dasar dan keterkaitannya dengan bunyi di dunia nyata.
Konsistensi Karakter dan Gerakan Kompleks
Masalah klasik "halusinasi visual" atau perubahan wajah karakter di tengah durasi (morphing) kini mulai teratasi. Dalam pengujian adegan pertarungan di bawah hujan yang penuh gerakan cepat, AI Seedance 2.0 menunjukkan performa yang stabil.Fitur wajah karakter tetap terjaga meski melakukan gerakan ekstrem seperti tendangan terbang.
Selain itu, tekstur pakaian dan kontur wajah tidak terdistorsi secara signifikan, sebuah peningkatan kualitatif dibanding generasi sebelumnya.
Fitur Self-Storyboarding
ByteDance memperkenalkan konsep self-storyboarding dan self-camera movement. Fitur ini memungkinkan AI untuk merencanakan pengambilan gambar secara otomatis berdasarkan deskripsi sederhana.Sebagai contoh, saat diminta memvisualisasikan seseorang berlari di pasir pantai, AI mampu mereproduksi efek fluida pasir dengan sangat alami.
Pasir yang terangkat mengikuti parabola gravitasi yang tepat dan otot betis yang bergetar sesuai ritme lari menunjukkan pemahaman model terhadap dinamika fisika yang kompleks.
Tantangan yang Masih Tersisa
Meski performanya mengesankan, Seedance 2.0 belum sepenuhnya sempurna. Beberapa catatan dari uji coba aktual menunjukkan adanya persoalan durasi dengan saat ini dukungan video masih terbatas pada durasi maksimal 15 detik.Bahkan pada beberapa instruksi rumit (seperti adegan membuka pintu), AI terkadang masih menghasilkan gerakan yang terlihat aneh atau tidak wajar. Dalam beberapa kasus pengguna masih menemukan kasus di mana teks atau subtitle tidak sinkron dengan audio sintetis, terutama jika teks yang dimasukkan terlalu padat.
Masa Depan Industri
Banyak pakar industri, termasuk blogger teknologi ternama, memprediksi dalam beberapa bulan ke depan, model ini akan mengubah lanskap drama pendek (short drama) dan konten media sosial.Dengan ambang batas penggunaan yang sangat rendah, siapa pun kini bisa memproduksi video berkualitas tinggi tanpa perlu keahlian teknis penyuntingan yang rumit.
Teknologi yang baik adalah teknologi yang dapat digunakan oleh semua orang, dan dengan AI Seedance 2.0, ByteDance tampaknya selangkah lebih maju dalam mewujudkan visi tersebut.
Sementara generator video AI saingan Sora 2 oleh OpenAI menghasilkan hasil dengan watermark, dan Veo 3.1 dari Google dilengkapi dengan watermark metadata yang disebut SynthID, Seedance mengklaim hasilnya "sepenuhnya bebas watermark".
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News