Co-founder Woobiz, Putri Noor Shaqina.
Co-founder Woobiz, Putri Noor Shaqina.

Putri Noor Shaqina

Social Commerce dan Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga Demi Perekonomian

Teknologi teknologi startup tech and life ecommerce
Cahyandaru Kuncorojati • 06 Maret 2020 16:11
Jakarta: Bicara ecommrce mungkin selalu identik dengan berbelanja online. Perempuan atau ibu rumah tangga dijadikan subjek dari pengguna layanan ini. Alhasil kalangan ini menerima label menjadi konsumtif dengan adanya layanan ini.
 
Sifat konsumtif tersebut bisa dilihat berdampak positif terhadap perekonomian negara. Namun bagaimana dampaknya kepada individu tersebut terutama kalangan ibu-ibu?
 
Ini yang coba dijawab oleh Putri Noor Shaqina, pendiri startup Woobiz. Dia melihat ecommerce yang menawarkan model bisnis sederhana, yaitu jual beli barang memiliki nilai ekonomi yang bisa berdampak besar bagi kalangan ibu-ibu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bagaimana ecommerce bukan cuma tempat belanja menghabiskan uang atau spender tapi malah membantu dia (ibu-ibu) bisa jadi produktif," ucapnya saat diwawancara Medcom.id. Dipimpin oleh perempuan yang disapa Shaqi, Woobiz menawarkan solusi berbentuk social commerce.
 
Shaqi yang sempat membawa layanan pembayaran digital berbasis QR ke bisnis kecil yang dikelola oleh ibu-ibu di daerah justru membawanya menemukan visi dan misi baru berkaca dari karakter ibu-ibu.
 
"Ibu-ibu ini karakter yang punya willingness atau kemauan sangat tinggi. Saya menemukan ibu-ibu yang sudah punya usaha seperti kos-kosan, laundry, warung makanan, di daerah mahasiswa perguruan tinggi ternyata masih ingin memiliki usaha sampingan," jelas Shaqi.
 
Ibu-ibu ini merasa masih punya waktu luang dan tenaga untuk melakoni usaha lain. Alasannya pun sederhana dan terbilang mulai, ingin membantu perekonian keluarga dengan tetap mengembang tugas sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga.
 
"Saat itu ibu-ibu yang kami dekati menanyakan kira-kira mereka juga bisa mendapatkan modal usaha juga gak sebagai mitra, bukan cuma user (mahasiwa) yang terima promosi dari layanan saya sebelum Woobiz," tutur Shaqi.
 
Shaqi menceritakan banyak ibu-ibu yang mau mengambil dagangan di luar bisnis utamanya yang masih bisa diperjual belikan. Misalnya, menjual cemilan peyek di warung makannya, atau menjual mukena di laundry atau kosan yang dijaga.
 
"Misalnya aja pas bulan Ramadan, pasti di pinggir jalan ramai semua ibu-ibu jualan cemilan berbuka. Banyak dari mereka yang berdagang itu musiman artinya para ibu ini punya kemauan yang besar kalau didukung dan mendapatkan modal," beber Shaqi.
 
Di sini Shaqi kemudian terpikirkan untuk memperkenalkan Woobiz sebagai social commerce. Singkatnya, meskipun memiliki platform seperti ecommerce tapi model bisnis ini lebih menekankan dampak sosial yang ditargetkan kepada perempuan terutama ibu-ibu.
 
Woobiz mengklaim bekerja dengan beberapa merek produk menawarkan pembelian dalam jumlah tertentu dengan komisi bagi para ibu yang menjualnya kembali. Jadi ecommerce bukan menjadi ibu konsumtif melainkan produktif sebagai peluang bisnis baru.
 
"Kita mau menjadi social commerce karena lebih impactful bagi individu. Mereka punya peluang bisnis dengan memanfaatkan komunitasnya, misalnya, ibu-ibu pengajian, ibu-ibu RT/RW, dan lainnya. Mereka biasanya sangat aktif dan influencer yang cakap bagi lingkarannya," jelas Shaqi.
 
Misalnya, saat menemukan produk yang menurut sang ibu atau mitra Woobiz bagus biasanya mereka punya behaviour untuk membagikan cerita tersebut ke ibu yang lain. Hal ini juga yang dianggap sulit dimiliki oleh brand produk saat mencoba penetrasi ke konsumen.
 
Meksipun terlihat sederhana, Shaqi mengaku ada banyak tantangan yang dihadapi terutama dari karakter ibu-ibu. Sebagian besar mereka merasa gagap teknologi dan mudah menyerah dalam proses belajar meskipun mendapatkan pendampingan dari Woobiz.
 
"Ada ibu-ibu yang memang kesulitan dari sisi teknologi kayak pakai smartphone tapi sebagian besar dari mereka mengerti ecommerce. Kemudian banyak ibu-ibu yang juga tadinya tidak pede untuk berbicara ke komunitas atau ibu-ibu lain," kata Shaqi.
 
Usaha proaktif Woobiz berbuah manis. Shaqi dan tim selalu lebih memiliki melakukan pendampingan langsung untuk memberikan materi. Akhirnya karakter ibu-ibu yang dijelaskan sebelumnya bisa diasah oleh Woobiz. Ibu-ibu yang awalnya malu justru berani dan aktif memasarkan produknya.
 
"Jadi ibu-ibu yang tadinya malu tapi karena komitmen dan willingness kuat untuk selalu mengikuti pelatihan Woobiz akhirnya jadi sangat aktif. Bahkan beberapa mitra Woobiz yang berhasil kini menjadi bisnis jual beli income utama keluarganya," ungkapnya.
 
"Kuncinya satu, ibu-ibu ini harus didampingin dan dimotivasi terus. Jangan cuma di kasih teknologi atau platformnya kemudian ada barangnya, sudah. Mereka harus diasah skill-nya untuk berjualan dan mengenali produk yang dijual. Nanti dengan sendirinya mereka akan mandiri, ibu-ibu adalah perempuan yang kemauannya bisa lebih besar dari pria," ujar Shaqi.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif