Foto: Infobip
Foto: Infobip

Umur ke-20, Infobip Dorong Adopsi Agentic AI untuk Hyper-Personalization

Mohamad Mamduh • 06 Maret 2026 17:16
Ringkasnya gini..
  • Secara global, Infobip memprediksi adanya pergeseran model komunikasi dari yang didominasi oleh application-to-person (A2P) messaging ke model agent-to-person
  • Penerapan Agentic AI juga memberikan solusi untuk tantangan spesifik di Indonesia.
  • Brand yang tidak siap menghadapi masa depan ini berisiko kehilangan daya saing mereka.
Jakarta: Platform komunikasi cloud global berbasis kecerdasan buatan (AI), Infobip, merayakan dua dekade perjalanannya dalam mentransformasi interaksi antara bisnis dan konsumen.
 
Dimulai dari sebuah SMS yang dikirim dari Kroasia, kini Infobip memproses lebih dari 700 miliar pesan setiap tahunnya. Seiring dengan perayaan ini, Infobip memproyeksikan babak baru komunikasi global dengan munculnya Agentic AI (AI Agen).
 
Secara global, Infobip memprediksi adanya pergeseran model komunikasi dari yang didominasi oleh application-to-person (A2P) messaging ke model agent-to-person, dan puncaknya menuju interaksi agent-to-agent yang sepenuhnya independen pada tahun 2030.

CEO Infobip, Silvio Kutić, menekankan bahwa di era baru ini, brand perlu mengadopsi pendekatan komunikasi yang lebih holistik dengan mengoptimalkan hyper-personalization melalui adopsi Agentic AI dan saluran interaktif seperti RCS dan WhatsApp.
 
Di Indonesia, evolusi ini mulai terlihat nyata. Infobip yang telah hadir sejak 2016, mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan adopsi GenAI (Generative AI) untuk kebutuhan engagement brand di berbagai industri sudah terjadi.
 
Berdasarkan laporan Messaging Trends 2025, 50% adopsi AI di Indonesia didorong oleh GenAI, yang banyak digunakan untuk menyesuaikan pesan berdasarkan minat dan profil pelanggan hingga tingkat hyper-personalization. Meskipun GenAI diperkirakan masih mendominasi, Infobip memproyeksikan transisi menuju adopsi Agentic AI dalam waktu dekat.
 
Agentic AI berperan lebih jauh dibandingkan GenAI. Ia bukan lagi asisten yang hanya menjawab, tetapi sudah menjadi agen yang bertindak secara independen untuk menyelesaikan masalah pelanggan secara langsung. Dengan beroperasi di level pelanggan dan merespons perilaku secara real-time, teknologi ini memungkinkan brand mempersonalisasi tindakan dan hasil, bukan hanya konten semata.
 
Kukuh Prayogi, Enterprise Business Director Infobip Indonesia, menjelaskan bahwa konsumen kini mengharapkan solusi end-to-end, seperti dibantu mencarikan produk yang tepat, atau menyelesaikan kendala layanan secara instan melalui saluran pilihan mereka. Hal ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan akan dukungan agentic di sepanjang customer journey.
 
Penerapan Agentic AI juga memberikan solusi untuk tantangan spesifik di Indonesia. Pada sektor telekomunikasi, mampu mendukung pengambilan keputusan independen dalam mengelola jaringan yang kompleks dan operasional 5G.
 
Kemudian pada sektor pembiayaan, membantu institusi keuangan memperluas akses kredit bagi UMKM dengan proses persetujuan pinjaman yang lebih cepat dan risiko yang lebih terkontrol.
 
Menyongsong tahun 2030, Infobip memproyeksikan kehadiran asisten AI personal di smartphone yang mampu menangani tugas-tugas kompleks secara independen, misalnya bernegosiasi otomatis dengan AI perusahaan travel untuk memesan paket liburan.
 
Untuk meraih kesuksesan dalam lanskap bisnis baru ini, perusahaan harus segera menghapuskan silo data dan menggabungkan informasi pelanggan dalam satu sistem. Saat ini, tingkat kesiapan bisnis masih rendah, di mana hanya sekitar 5% proyek agen AI yang berhasil masuk tahap produksi, sebagian besar karena data yang belum terstruktur.
 
Kutić menegaskan, perusahaan harus mulai bergerak sekarang. Struktur organisasi yang memfasilitasi data sharing secara mulus akan menjadi kunci keberhasilan adopsi agen AI. "Brand yang tidak siap menghadapi masa depan ini berisiko kehilangan daya saing mereka."
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA