Sepatu terbarunya, yang dinamai Futurecraft 4D, mungkin adalah produknya yang paling ambisius. Sol tengah dari sepatu ini dibuat dengan proses yang disebut Continous Liquid Interface Production, yang memanfaatkan cahaya ultraviolet untuk membentuk polimer cair, menurut laporan The Verge.
Perusahaan Silicon Valley yang menciptakan metode ini, Carbon, mengatakan bahwa metode tersebut lebih cepat dan lebih fleksibel jika dibandingkan dengan pencetakan konvensional. Metode ini juga memungkinkan 3D printer digunakan untuk membuat sebuah produk secara massal.
Dari segi dana, Carbon didukung oleh Google dan General Electric. Mereka menyebutkan, metode mereka memungkinkan perusahaan untuk memangkas waktu dari proses desain hingga pembuatan produk. Mereka mengklaim, produk yang dibuat dengan metode ini menjadi lebih tangguh dan fleksibel jika dibandingkan dengan proses penyuntikan plastik tradisional.
Meskipun begitu, teknologi ini masih baru. Karena itu, tidak heran jika Adidas tidak menggunakan teknologi ini untuk memproduksi semua sepatunya. Sepatu Futurecraft ini hanya akan dijual sebanyak 5.000 pada tahun ini, walau Adidas mengklaim, mereka bisa membuat 100 ribu pasang sepatu pada akhir 2018.
"Pencapaian ini tidak hanya penting untuk kami sebagai perusahaan, tapi juga untuk industri," ujar Head of Technology Innovation, Adidas, Gerd Manz pada Reuters. "Kami telah berhasil menembus batas."
Satu hal yang menarik dari pembuatan sepatu dengan metode pencetakan 3D adalah karena manufaktur dapat membuat sepatu dalam jumlah lebih sedikit. Ia bisa digunakan untuk membuat sepatu khusus dalam acara tertentu atau sepatu yang dibuat sesuai dengan keperluan seseorang.
Namun, hal itu belum dapat dicapai sekarang ini karena Adidas dan Carbon harus bisa menurunkan ongkos produksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News