Mengutip GSM Arena, LG dikenal sebagai salah satu produsen yang tidak takut bereksperimen. Beberapa perangkat ikonik seperti LG Wing dan konsep LG Rollable menjadi bukti keberanian tersebut. LG Wing, misalnya, menghadirkan desain layar putar yang memungkinkan multitasking dengan dua layar sekaligus, fitur yang kini terasa relevan di era ponsel lipat.
Sementara LG Rollable bahkan digadang-gadang sebagai masa depan smartphone dengan layar yang bisa diperluas tanpa lipatan. Namun, inovasi ini sering kali hadir terlalu cepat sebelum ekosistem aplikasi dan kesiapan pasar mendukung. Akibatnya, produk tersebut gagal meraih kesuksesan komersial.
Selain desain eksperimental, LG juga dikenal menghadirkan fitur unggulan lain seperti audio berkualitas tinggi melalui Quad DAC pada seri V, serta kamera ultra wide yang kini menjadi standar di banyak smartphone flagship.
Perangkat seperti LG V30 bahkan sempat menjadi favorit bagi pecinta audio karena kualitas suara superior. Di sisi lain, seri G seperti LG G6 membawa rasio layar 18:9 lebih awal dibandingkan dengan kompetitor, tren yang kini menjadi standar industri.
Kendati inovatif, LG tidak lepas dari sejumlah kelemahan. Dukungan software kurang konsisten, harga tidak kompetitif, serta strategi pemasaran lemah menjadi faktor utama kegagalan bisnis smartphone mereka.
Bahkan setelah keluar dari pasar pada tahun 2021, LG hanya memberikan dukungan pembaruan terbatas sebelum akhirnya menghentikan seluruh layanan update pada tahun 2025. Kini, banyak ide yang dulu dianggap aneh dari LG justru menjadi inspirasi bagi teknologi modern, khususnya di era ponsel lipat dan konsep layar fleksibel.
Kendati gagal secara bisnis, LG meninggalkan warisan penting yaitu keberanian untuk bereksperimen. Tanpa pendekatan tersebut, perkembangan smartphone mungkin tidak akan secepat saat ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News