Ilustrasi: Kaspersky
Ilustrasi: Kaspersky

Riset: 84% Pengguna Kini Simpan Data Sensitif Secara Digital

Mohamad Mamduh • 10 April 2026 15:09
Ringkasnya gini..
  • Sebaliknya, kepercayaan terhadap salinan fisik murni hanya tersisa sebesar 16% di masyarakat umum.
  • Meskipun digitalisasi menawarkan kemudahan, risiko keamanan tetap mengintai.
  • pengguna dapat melindungi aset digital mereka tanpa merasa terbebani oleh proses teknis yang rumit.
Jakarta: Sebuah riset terbaru mengungkapkan pergeseran besar dalam perilaku penyimpanan data masyarakat global. Berdasarkan studi yang dilakukan pusat Riset Pasar Kaspersky, sebanyak 84% responden kini memilih menyimpan data pribadi sensitif mereka dalam format elektronik.
 
Data tersebut mencakup dokumen krusial seperti KTP, detail keuangan, informasi kesehatan, hingga arsip foto. Fenomena digitalisasi ini sangat menonjol di kalangan generasi muda. Pada kelompok usia 18–34 tahun (Generasi Z dan Milenial), angka pengguna yang mengandalkan format digital melonjak hingga 90%.
 
Sebaliknya, kepercayaan terhadap salinan fisik murni hanya tersisa sebesar 16% di masyarakat umum. Kelompok usia di atas 55 tahun menjadi yang paling konservatif, di mana hampir 30% dari mereka masih memilih cara tradisional dengan menuliskan informasi penting di kertas atau catatan fisik.

Mengenai platform yang digunakan, mayoritas responden (56%) menyimpan data mereka di komputer atau hard drive eksternal, sementara 45% menggunakan layanan cloud. Di Indonesia, tren ini bahkan lebih kuat; sebanyak 61% pengguna menyimpan data di perangkat keras dan 61% lainnya telah memanfaatkan solusi cloud. Namun, hanya 14% responden Indonesia yang mempercayakan data mereka kepada layanan digital pemerintah.
 
Marina Titova, Wakil Presiden untuk Bisnis Konsumen di Kaspersky, menekankan bahwa meskipun digitalisasi menawarkan kemudahan, risiko keamanan tetap mengintai. "Media fisik dapat rusak, namun layanan cloud juga rentan terhadap akses tidak sah," ujarnya. Kaspersky mencatat bahwa 36% responden masih menggunakan kata sandi yang mudah diingat, sehingga rentan terhadap serangan brute force.
 
Untuk memitigasi risiko, para ahli menyarankan penerapan strategi pencadangan 3-2-1: memiliki tiga salinan data, disimpan dalam dua jenis media berbeda, dengan satu salinan berada di lokasi luar (off-site).
 
Selain itu, penggunaan pengelola kata sandi (password manager) yang dilengkapi fitur brankas digital sangat direkomendasikan untuk melindungi dokumen pindaian seperti paspor atau ID.
 
Kaspersky juga mendorong pengguna untuk mengaktifkan Otentikasi Dua Faktor (2FA) atau teknologi passkey. Dengan melakukan pencadangan otomatis secara rutin dan memprioritaskan data berdasarkan tingkat kepentingan, pengguna dapat melindungi aset digital mereka tanpa merasa terbebani oleh proses teknis yang rumit.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA