Perubahan ini cukup mengejutkan, mengingat sebelumnya industri memori global tengah menghadapi kelangkaan komponen dan lonjakan harga akibat tingginya permintaan, terutama dari sektor AI.
Dikutip dari laporan situs WCCF Tech, meskipun harga RAM DDR5 turun, kondisi ini bukan berarti masalah kelangkaan sudah selesai. Laporan industri menunjukkan bahwa penurunan harga lebih dipicu oleh perubahan sentimen pasar, bukan karena suplai tiba-tiba melimpah.
Salah satu pemicunya adalah munculnya teknologi baru seperti TurboQuant dari Google, yang diklaim mampu mengurangi kebutuhan memori untuk menjalankan sistem AI.
Efeknya cukup besar. Produsen memori seperti Samsung, SK hynix, dan Micron dilaporkan mengalami penurunan nilai pasar dalam waktu singkat. Hal ini memicu kepanikan di rantai distribusi, termasuk distributor dan penjual ritel.
Kondisi tersebut menciptakan efek domino. Banyak pelaku pasar mulai beranggapan bahwa kebutuhan memori akan menurun, sehingga terjadi aksi jual stok secara besar-besaran.
Di Tiongkok, harga RAM bahkan disebut “runtuh” dalam waktu singkat, dengan penurunan lebih dari 100 yuan hanya dalam satu hari.
Namun, sebagian analis menilai reaksi ini terlalu berlebihan. Sebab, meskipun efisiensi meningkat, kebutuhan memori untuk AI justru diprediksi akan terus tumbuh dalam jangka panjang.
Bagi konsumen, terutama gamer dan pengguna PC, penurunan harga ini bisa menjadi kabar baik. Harga RAM yang lebih murah membuat biaya merakit atau upgrade PC menjadi lebih terjangkau.
Namun, kondisi ini belum tentu berlangsung lama. Fluktuasi harga masih sangat bergantung pada perkembangan industri AI dan dinamika pasar memori global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News