Asus dilaporkan tidak akan merilis smartphone baru sepanjang 2026, namun dukungan purna jual dan pembaruan perangkat lama tetap berjalan normal.
Asus dilaporkan tidak akan merilis smartphone baru sepanjang 2026, namun dukungan purna jual dan pembaruan perangkat lama tetap berjalan normal.

Asus Tidak Akan Meluncurkan HP Baru Sepanjang 2026, Strategi Baru Diumumkan

Lufthi Anggraeni • 05 Januari 2026 08:38
Jakarta: Asus dilaporkan tidak akan menghadirkan model smartphone baru sepanjang tahun 2026, langkah yang mengejutkan bagi penggemar ponsel Zenfone dan ROG Phone. Produsen asal Taiwan tersebut sudah mengkomunikasikan keputusan ini kepada mitra distribusi.
 
Namun, Asus menegaskan bahwa dukungan untuk perangkat yang sudah ada tetap berlanjut secara normal. Mengutip GSM Arena, informasi ini mencakup kedua lini utama smartphone Asus yaitu seri Zenfone, yang menyasar pengguna umum, dan ROG Phone, dikenal sebagai ponsel gaming dengan fitur khusus.
 
Keputusan ini muncul di tengah tantangan global yang semakin ketat di industri smartphone, mendorong ASUS mengambil pendekatan lebih selektif terhadap peluncuran perangkat baru pada tahun 2026.

Asus dikabarkan telah menyampaikan kepada berbagai kanal telekomunikasi bahwa tidak akan ada model Android baru, baik dari lini Zenfone maupun ROG Phone, yang akan diperkenalkan sepanjang tahun 2026.
 
Langkah ini dianggap sebagai bentuk penundaan peluncuran perangkat baru untuk periode tersebut, meski perusahaan tetap akan melanjutkan dukungan layanan purna jual seperti software update, maintenance, dan garansi bagi pemilik perangkat yang sudah beredar.
 
Sepanjang tahun 2025, Asus hanya merilis dua model smartphone baru, yaitu Zenfone 12 Ultra dan ROG Phone 9 series. Peluncuran yang terbatas ini sudah memberi sinyal perlambatan aktivitas perangkat baru, terutama jika dibandingkan dengan kompetitor lain yang rutin memperbarui portofolio produk mereka.
 
Situasi ini tidak berarti Asus akan keluar sepenuhnya dari bisnis smartphone. Perusahaan menegaskan bisnis ponselnya tidak ditutup dan operasional divisi mobile tetap berjalan. Asus memastikan bahwa dukungan untuk produk yang sudah hadir di pasar, termasuk pembaruan sistem dan layanan garansi, tidak akan terpengaruh oleh keputusan tersebut.
 
Namun, langkah ini dianggap sebagai salah satu akibat dari tantangan pasar smartphone global yang kian kompetitif dan dinamika biaya produksi. Produsen harus menghadapi tekanan biaya komponen seperti memori DRAM/NAND flash, serta persaingan ketat dari merek besar dengan skala produksi dan penetrasi pasar lebih luas.
 
Dalam lanskap ini, merek berukuran menengah seperti Asus kerap mengalami margin lebih tipis jika dibandingkan dengan pesaing besar seperti Samsung, Apple, atau brand asal Tiongkok yang mendominasi distribusi global.
 
Sebagai bagian dari kejelasan strategi, Asus menegaskan bahwa meskipun tidak ada perangkat baru yang diluncurkan di tahun 2026, pelayanan untuk perangkat yang telah ada tetap menjadi prioritas.
 
Pelayanan Ini mencakup pemeliharaan perangkat melalui layanan servis resmi, pembaruan perangkat lunak seperti patch keamanan dan potensi update OS, serta garansi resmi untuk model yang masih dalam periode dukungan purna jual.
 
Dengan demikian, pemilik ponsel ASUS, termasuk pengguna seri Zenfone 12 Ultra dan ROG Phone 9, tetap dapat mengharapkan pengalaman layanan yang konsisten tanpa gangguan meskipun tidak ada perangkat baru yang diperkenalkan selama satu tahun penuh.
 
Penundaan peluncuran perangkat baru ini mencerminkan tantangan yang dihadapi merek dengan skala produksi dan pangsa pasar lebih kecil di industri smartphone. Kendati Asus pernah dikenal sebagai pemain penting di segmen Android, dengan perangkat yang inovatif seperti lini Zenfone dan ROG Phone yang menyasar gamer mobile, persaingan kian intens membuat perusahaan perlu meninjau ulang strategi produk jangka pendeknya.
 
Industri smartphone global juga tengah menghadapi kenaikan biaya komponen, termasuk memori dan teknologi canggih seperti chipset generasi terbaru. Hal ini berpotensi menekan profit margin pabrikan yang tidak memiliki volume penjualan sebagus brand besar lainnya.
 
Dalam konteks ini, keputusan Asus bisa dipandang sebagai usaha perusahaan untuk menstabilkan operasi bisnis dan fokus menjaga kualitas dukungan perangkat yang sudah ada.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA