Commvault SHIFT Jakarta soroti pentingnya ketahanan siber terpadu, AI, cloud-native, dan pemulihan data bersih bagi organisasi di Indonesia.
Commvault SHIFT Jakarta soroti pentingnya ketahanan siber terpadu, AI, cloud-native, dan pemulihan data bersih bagi organisasi di Indonesia.

Commvault: Ketahanan Siber Makin Kompleks Seiring Perkembangan AI

Cahyandaru Kuncorojati • 08 Mei 2026 19:24
Ringkasnya gini..
  • Commvault SHIFT Jakarta bahas ketahanan siber terpadu di tengah ancaman AI dan serangan siber yang meningkat.
  • Commvault Cloud Unity hadirkan perlindungan data, identitas, dan pemulihan cloud-native dalam satu platform.
  • Commvault menilai pemulihan siber kini harus fokus pada pemulihan “bersih”, bukan sekadar cepat.
Jakarta: Commvault menggelar forum SHIFT pertamanya di Indonesia dengan menyoroti pentingnya ketahanan siber terpadu di tengah meningkatnya ancaman siber dan percepatan adopsi AI di lingkungan enterprise.
 
Acara bertajuk SHIFT Jakarta tersebut mempertemukan pelanggan dan mitra Commvault untuk membahas tantangan organisasi dalam melindungi, mengelola, dan memulihkan lingkungan digital yang kini semakin kompleks akibat penggunaan infrastruktur hybrid dan multi-cloud.
 
Commvault menilai pertumbuhan ekonomi digital Indonesia turut diiringi peningkatan risiko siber. Organisasi disebut menghadapi tantangan akibat penggunaan tools yang terfragmentasi serta pendekatan perlindungan data, keamanan identitas, dan pemulihan yang masih terpisah-pisah.

“Perusahaan di Indonesia saat ini menghadapi badai yang besar: ancaman siber yang tiada henti diperparah oleh AI, serangan terhadap sistem identitas, serta tantangan pemulihan yang berdampak pada pendapatan dan reputasi,” ujar Martin Creighan, Vice President Asia Pacific di Commvault.
 
“Saat ini, ketahanan bukan hanya soal perlindungan, tetapi tentang memastikan organisasi dapat pulih dengan kepastian dan menjaga kelangsungan bisnis dalam kondisi apapun,” lanjutnya.
 

Risiko Siber di Indonesia

Commvault juga membahas laporan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat miliaran upaya serangan siber sepanjang 2025. Menurut perusahaan, kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya frekuensi dan kecanggihan ancaman yang dihadapi organisasi di Indonesia.
 
Untuk menjawab tantangan tersebut, Commvault memperkenalkan platform Commvault Cloud Unity yang mengintegrasikan perlindungan data, pemulihan siber, ketahanan identitas, serta arsitektur cloud-native dalam satu platform terpadu.
 
Platform ini disebut dibangun dengan kemampuan AI yang dapat membantu organisasi menemukan workload secara otomatis, mengklasifikasikan data, serta merekomendasikan kebijakan perlindungan di lingkungan hybrid.
 
Commvault mengatakan pendekatan terpadu tersebut dirancang untuk memberikan visibilitas yang lebih jelas dan kontrol lebih besar bagi organisasi dalam merespons ancaman siber.
 
Salah satu fokus utama dalam SHIFT Jakarta adalah meningkatnya kebutuhan terhadap pemulihan siber dan validasi sistem. Commvault menilai serangan siber saat ini dirancang agar tetap tidak terdeteksi dan mampu menyebar ke berbagai sistem.
 
Kondisi tersebut membuat organisasi menghadapi risiko memulihkan data yang sebenarnya telah terkompromi. Karena itu, Commvault menghadirkan kemampuan untuk membantu organisasi mengidentifikasi titik pemulihan yang terpercaya sekaligus memulihkan lingkungan secara menyeluruh.
 
Perusahaan menyebut pendekatan ini mencerminkan pergeseran prioritas industri dari sekadar “memulihkan dengan cepat” menjadi “memulihkan dengan benar”.
 

Identitas dan Cloud-Native

Selain perlindungan data, identitas juga disebut menjadi lapisan penting dalam strategi ketahanan siber modern. Commvault menilai peningkatan jumlah identitas manusia dan mesin akibat adopsi AI turut memperluas attack surface dan membuka potensi serangan baru.
 
Melalui pendekatan terintegrasi, organisasi disebut dapat memantau sistem identitas, mendeteksi perubahan tidak sah, hingga memulihkan identitas tepercaya setelah insiden terjadi.
 
Di sisi lain, Commvault juga menyoroti meningkatnya penggunaan Kubernetes, aplikasi SaaS, dan lingkungan multi-cloud yang membuat ketahanan siber kini harus mencakup keseluruhan ekosistem aplikasi, bukan hanya data.
 
“Seiring organisasi memperluas penerapan AI, kompleksitas pada data, akses, dan lingkungan juga ikut meningkat,” ujar Gareth Russell, Field CTO Security Asia Pacific Commvault.
 
“Jika Anda tidak memiliki visibilitas yang jelas mengenai data mana yang benar-benar bersih dan dapat dipercaya, maka proses pemulihan menjadi tidak pasti, dan di situlah letak risiko sebenarnya,” lanjutnya.
 
Commvault menegaskan bahwa ketahanan siber kini tidak lagi hanya menjadi fungsi back-end IT, tetapi telah menjadi kebutuhan bisnis yang berkaitan langsung dengan keberlangsungan operasional, kepercayaan, dan kepatuhan terhadap regulasi.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA