Apple menolak permintaan FBI untuk membantu mendekripsikan iPhone pelaku. (AP Photo / Richard Drew, File)
Apple menolak permintaan FBI untuk membantu mendekripsikan iPhone pelaku. (AP Photo / Richard Drew, File)

Apple Tolak Permintaan FBI untuk Dekripsi iPhone

Ellavie Ichlasa Amalia • 17 Februari 2016 19:07
medcom.id: Seorang hakim AS telah memerintahkan Apple untuk membantu FBI (Federal Bureau of Investigation) untuk membuka kunci enkripsi yang ada pada iPhone milik salah satu pelaku penembakan San Bernardino.
 
Tidak bisa tidak, hal ini akan membuat debat yang ada antara pemerintah AS dan perusahaan-perusahaan di Silicon Valley memanas. Pemerintah merasa kepetingan nasional lebih penting sementara pihak Silicon Valley merasa privasi pelanggan lebih penting.
 
Dalam kasus ini, FBI Director James Comey mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat membuka kunci pada iPhone milik salah satu pelaku penembakan, yang berarti mereka tidak bisa mencari file bukti tentang penembakan massal yang terjadi di Desember tahun lalu.

Pihak penyelidik masih berusaha untuk menentukan sejauh apa efek dari grup Islam radikal pada para pelaku penembakan. Selain itu, mereka juga ingin tahu siapa saja yang telah dihubungi pelaku sebelum mereka memutuskan untuk melakukan penembakan massal.
 
Apple mulai membuat software enkripsi tambahan untuk iPhone di tahun 2014. Ketika itu, mereka menyebutkan bahwa mereka tidak akan membuka enkripsi tersebut, bahkan jika pengadilan yang memerintahkan.
 
Alasan Apple melakukan hal ini adalah atas nama privasi konsumen dan keamanan siber. Dan sejak saat itu, Apple terus beradu pendapat dengan FBI.
 
fbi dekripsi iphone
 
Sheri Pym, sang hakim yang menangani kasus San Bernardino, tidak meminta Apple untuk membobol enkripsi pada iPhone 5c milik salah satu pelaku. Dia hanya meminta Apple untuk membantu para agen FBI untuk menebak kode yang digunakan pada smartphone tersebut.
 
Alasannya, Apple telah menanamkan sebuah fitur keamanan pada iPhone yang berfungsi untuk menyulitkan siapapun yang berusaha untuk membobol kunci yang ada dengan cara "kasar" yaitu menebak passcode satu per satu.
 
Fitur yang ditanamkan Apple begitu sulit untuk ditembus sehingga untuk menebak kode yang digunakan pada satu smartphone, seseorang akan memerlukan waktu sekitar lima setengah tahun.
 
Selain membantu pihak FBI, sang hakim juga ingin agar Apple mematikan fitur "auto-erase". Untuk melakukan ini, Apple diminta untuk membuat sebuah program yang akan FBI pasang ke iPhone pelaku. Apple diizinkan untuk meminta kisaran biaya dan bahkan penolakan jika permintaan pengadilan dirasa terlalu menyulitkan.
 
Pihak pengadilan juga mengizinkan Apple untuk menggunakan cara lain untuk mendapatkan hasil yang sama yaitu akses ke konten yang ada di iPhone milik pelaku.
 
Menanggapi hal ini, melalui sebuah customer letter pada situs resminya, Apple menolak permintaan pengadilan. 
 
"Hingga saat ini, kami telah melakukan semua yang kami bisa untuk membantu mereka. Tapi, sekarang, pemerintah telah meminta kami untuk membuat sesuatu yang terlalu berbahaya untuk dibuat," tulis Apple. "Mereka meminta kami untuk membuat backdoor untuk iPhone."
 
Apple menjelaskan bahwa FBI ingin agar mereka membuat sistem operasi baru untuk iPhone yang dapat menghilangkan beberapa fitur keamanan yang penting. Sistem operasi baru ini lalu akan dipasang ke iPhone yang ditemukan dalam investigasi mereka.
 
Apple merasa, jika software ini - yang saat ini belum ada - jatuh ke tangan yang salah, maka ia akan dapat digunakan untuk mendekripsi fitur keamanan yang ada pada semua iPhone.
 
"FBI mungkin menggunakan kata-kata yang sedikit berbeda untuk menjelaskan fungsi dari tool ini. Tapi, jangan salah, mengembangkan iOS yang dapat melewati fitur keamanan pada iPhone sudah pasti akan berujung pada pembuatan backdoor," tulis Apple.
 
"Dan meskipun pemerintah berargumen bahwa software ini hanya akan digunakan untuk kasus ini, tidak ada jaminan software ini tidak akan digunakan lagi."
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA