Foto: BRIN
Foto: BRIN

Inovasi Teknologi CT X-ray dan Pemanfaatan NDT Berbasis AI

Mohamad Mamduh • 19 Februari 2026 11:08
Ringkasnya gini..
  • Sejak 2015 Indonesia telah ditetapkan sebagai IAEA Collaborating Centre di bidang NDT.
  • Pengembangan ini sejalan dengan program dan rekomendasi IAEA serta mendukung upaya BRIN dalam mendorong kemandirian teknologi nasional berbasis riset.
  • IAEA bersama para mitra akan mengembangkan protokol, pedoman pelatihan, serta standar global terkait penerapan AI-augmented NDT.
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat peran strategisnya dalam pengembangan teknologi radiasi industri melalui IAEA Collaborating Centres Webinar Series bertajuk Tech Talk - Advancing Industrial Radiation Technology, yang digelar secara daring pada Rabu (28/1).
 
Acara ini membahas inovasi teknologi Computed Tomography (CT) sinar-X berbiaya rendah serta pemanfaatan Non-Destructive Testing (NDT) berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung kebutuhan industri dan manajemen kebencanaan.
 
Section Head of Radiochemistry and Radiation Technology IAEA, Celina Horak, menegaskan bahwa teknologi Industrial X-ray Computed Tomography (CT) kini semakin berperan penting dalam mendukung kualitas, keselamatan, dan inovasi industri. Menurutnya, CT sinar-X memungkinkan inspeksi internal material dan struktur dengan presisi tinggi, namun pemanfaatannya harus dibarengi dengan standar keselamatan dan kompetensi yang memadai.

“Teknologi ini membawa manfaat besar, namun menuntut pengukuran yang andal, perlindungan radiasi yang efektif, serta tenaga kerja yang terampil,” ujarnya.
 
Celina juga menekankan peran IAEA Collaborating Centres dalam menjembatani panduan global dengan penerapan di tingkat nasional. “Pusat kolaborasi mengubah panduan global menjadi kemampuan lokal melalui pelatihan, pengujian, dan proyek percontohan,” tambahnya.
 
Membuka acara, Maman Kartaman yang mewakili Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN menegaskan bahwa Non-Destructive Testing (NDT) merupakan teknologi penting dalam menjaga keselamatan dan keandalan fasilitas industri. “NDT berperan penting dalam memastikan integritas fasilitas sekaligus melindungi manusia dan lingkungan,” ujarnya.
 
Ia juga menyoroti dukungan jangka panjang IAEA terhadap pengembangan kapasitas Indonesia di bidang teknologi nuklir dan radiasi. Menurutnya, kerja sama yang telah terjalin melalui berbagai program nasional, regional, dan penelitian telah memberikan dampak nyata, khususnya dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan transfer teknologi. Pengembangan CT Sinar-X merupakan salah satu contoh transfer teknologi melalui peran IAEA. 
 
Lebih lanjut, Maman menyampaikan bahwa sejak 2015 Indonesia telah ditetapkan sebagai IAEA Collaborating Centre di bidang NDT, dan saat ini BRIN telah mengajukan perpanjangan kerja sama tersebut untuk periode ketiga. “Hal ini mencerminkan komitmen berkelanjutan Indonesia dalam memperkuat kemitraan strategis dengan IAEA,” tegasnya.
 
Pada sesi pemaparan, Peneliti Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir BRIN, Kristedjo Kurnianto, menjelaskan bahwa pengembangan CT sinar-X berbiaya rendah dilakukan untuk menjawab keterbatasan akses terhadap sistem CT industri komersial.
 
“Sistem CT industri yang tersedia secara komersial umumnya bernilai sangat mahal, sehingga sulit diakses oleh banyak lembaga riset dan industri. Karena itu, kami mengembangkan sistem CT sinar-X dengan biaya yang lebih rendah namun tetap dapat digunakan untuk berbagai aplikasi,” jelas Kristedjo.
 
Sistem CT yang dikembangkan BRIN dirancang menggunakan pendekatan modular dan pemanfaatan komponen yang lebih terjangkau, tanpa menghilangkan fungsi utama sebagai alat inspeksi non-destruktif.
 
“Pendekatan ini memungkinkan teknologi CT dimanfaatkan lebih luas, tidak hanya untuk inspeksi komponen industri, tetapi juga untuk penelitian material, pertanian, hingga bidang lain yang membutuhkan pencitraan internal tanpa merusak objek,” ujarnya.
 
Menurut Kristedjo, pengembangan ini sejalan dengan program dan rekomendasi IAEA serta mendukung upaya BRIN dalam mendorong kemandirian teknologi nasional berbasis riset.
 
Sesi berikutnya disampaikan oleh Hannah Asamoah Affum, Industrial Technologist dari IAEA, yang menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi NDT yang diperkuat AI dalam penanganan kebencanaan, khususnya untuk penilaian teknis infrastruktur.
 
“Setelah terjadi bencana, sangat penting untuk dapat menilai kondisi struktur bangunan secara cepat dan akurat. NDT memungkinkan kami mendeteksi kerusakan yang tidak terlihat secara visual, sehingga keputusan yang diambil dapat lebih tepat dan aman,” ungkap Hannah.
 
Ia menjelaskan bahwa integrasi AI dalam metode NDT memberikan peningkatan signifikan pada proses analisis data, terutama dalam mempercepat interpretasi hasil inspeksi dan menjaga konsistensi penilaian. 
 
“Dengan dukungan AI, proses penilaian dapat dilakukan lebih cepat dan berbasis data, yang sangat dibutuhkan dalam situasi darurat pascabencana,” katanya. 
 
Melalui peluncuran program baru Coordinated Research Project (CRP) IAEA F22087, Hannah menambahkan bahwa melalui program baru ini, IAEA bersama para mitra akan mengembangkan protokol, pedoman pelatihan, serta standar global terkait penerapan AI-augmented NDT, guna memperkuat kesiapsiagaan negara-negara anggota dalam menghadapi bencana.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA