Ennita Pramono, Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia bersama Team Lumyx dari SMA Darma Yudha Pekanbaru (Foto: Medcom.id/Fany Wirda)
Ennita Pramono, Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia bersama Team Lumyx dari SMA Darma Yudha Pekanbaru (Foto: Medcom.id/Fany Wirda)

Perjuangan Peserta Menaklukkan Tantangan Ketat Samsung Innovation Campus Batch 7

Muhammad Syahrul Ramadhan • 19 Februari 2026 17:47
Ringkasnya gini..
  • Setiap peserta SIC batch 7 harus melewati Logic Test yang ketat pada saat pendaftaran.
  • Tahap ini berfungsi sebagai filter utama untuk melihat kesiapan logika dan kemampuan berpikir kritis.
  • Peserta yang berhasil mencapai tahap akhir bukan hanya mereka yang menguasai teknologi.
Jakarta: Di balik kesuksesan lahirnya solusi teknologi seperti ALEX dan Physiotrack, terdapat perjalanan panjang yang penuh tantangan. Program Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 7 bukanlah sekadar pelatihan biasa, ini adalah kawah candradimuka bagi generasi muda Indonesia untuk menguji ketangguhan mental, logika, dan kerja sama tim.
 
Sejak tahap sosialisasi dimulai, antusiasme dari berbagai sekolah (SMA/SMK/MA) dan universitas di seluruh Indonesia sangatlah besar. Didukung oleh kementerian terkait dan partner operasional Samsung, ribuan pendaftar mencoba peruntungan mereka. Namun, untuk masuk ke program ini, minat di bidang IT saja tidak cukup.
 
"Proses seleksi dan pembelajaran di SIC Batch 7 memang tidak mudah. Kami menerapkan logic test sejak awal sebagai filter untuk mengukur kesiapan logika dan minat mendalam peserta di bidang IT. Kurikulum yang kami berikan sangat segmented dan intensif, karena kami ingin memastikan setiap peserta benar-benar siap menjadi ahli di bidang coding dan programming,” ujar Ennita Pramono, selaku  Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia.

Setiap peserta harus melewati Logic Test yang ketat pada saat pendaftaran. Tahap ini berfungsi sebagai filter utama untuk melihat kesiapan logika dan kemampuan berpikir kritis peserta dalam menyerap keilmuan teknologi yang akan diberikan.
 
Melalui tes ini, Samsung memastikan bahwa mereka yang terpilih adalah individu yang benar-benar siap menghadapi kurikulum yang sangat terkelompok atau segmented.

Coding & Programming 

Pada tahap awal, peserta langsung berhadapan dengan inti teknologi. Pembelajaran dilakukan secara intensif, di mana setiap Sabtu dan Minggu peserta "dibombardir" dengan materi serta tugas-tugas teknis. Keaktifan menjadi syarat mutlak untuk bisa lulus ke tahap berikutnya.

IoT (Internet of Things) dan AI (Artificial Intelligence) 

Setelah menguasai dasar pemrogaman, peserta ditantang untuk naik level dengan mempelajari integrasi perangkat keras dan kecerdasan buatan.

Prototyping 

Di sini, teori mulai bertransformasi menjadi aksi. Peserta diwajibkan menyusun ide solusi dan membangun purwarupa (prototype) yang bisa bekerja di dunia nyata.
   

Presentasi Ide 

Puncaknya, peserta harus mempresentasikan ide solusi mereka di hadapan para ahli. Ini adalah ajang pembuktian apakah inovasi yang mereka bangun benar-benar solutif dan aplikatif.
 
Menurut Ennita Pramono, Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia, ketatnya proses seleksi dan pembelajaran ini dilakukan bukan tanpa alasan. Kurikulum yang segmented pada bidang coding dan programming dirancang untuk mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya paham teori, tetapi ahli dalam praktik.
 
Program yang kini memasuki tahun ketujuh (Batch 7) ini membuktikan bahwa dedikasi dan konsistensi adalah kunci. Peserta yang berhasil mencapai tahap akhir bukan hanya mereka yang menguasai teknologi, melainkan mereka yang berani berpikir kritis dan mampu berkolaborasi di bawah tekanan jadwal yang padat.
 
(Fany Wirda Putri)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA