Ilustrasi.
Ilustrasi.

Di Asia Tenggara, Tingkat Adopsi AI Indonesia Paling Tinggi

Ellavie Ichlasa Amalia • 17 Juli 2018 17:00
Jakarta: Adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara naik dari 8 persen pada tahun lalu menjadi 14 persen, menurut laporan SAS dan IDC.
 
Sebanyak 52 persen responden survei mengatakan bahwa alasan utama mereka mengadopsi AI adalah insight bisnis yang lebih baik. Sementara 51 persen mengungkap alasan mereka menggunakan AI untuk meningkatkan otomatisasi dan 42 persen menyebutkan ingin meningkatkan produktivitas.
 
Menariknya, Indonesia adalah negara pengadopsi AI nomor satu di Asia Tenggara dengan tingkat adopsi 24,6 persen. Diposisi kedua terdapat Thailand dengan tingkat adopsi 17,1 persen, diikuti oleh Singapura (9,9 persen) dan Malaysia (8,1 persen).

Di Asia Tenggara, Tingkat Adopsi AI Indonesia Paling Tinggi
 
Mengapa Indonesia bisa memiliki tingkat adopsi yang paling besar di Asia Tenggara, mengalahkan Singapura yang merupakan negara maju? Hal ini bisa terjadi berkat cepatnya pertumbuhan perusahaan internet di Indonesia.
 
Kini, perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia tengah bersaing ketat. Mereka berlomba-lomba untuk menyediakan jasa angkutan online, pembiayan mikro, e-commerce dan juga gaming.
 
“Indonesia adalah market yang sempurna untuk berkembangnya AI. Fundamental dari AI dan analitik betul-betul bergantung pada ketersediaan data dan Indonesia saat ini sudah pasti memiliki volume dan skala data yang tepat, yang jelas sekali akan menjustifikasi perlunya berinvestasi di AI,” kata Peter Sugiapranata, Country Manager, SAS Indonesia.
 
“Tantangan bagi Indonesia adalah untuk benar-benar membayangkan bagaimana AI dan analitik dapat menjadi pendiferensiasi bisnis," ujarnya.
 
Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk membuat AI sebagai pembeda bisnis, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan hasil akhir dan menyusun langkah yang jelas dari data ke inovasi.

 
Pasar Indonesia mirip dengan Tiongkok. Keduanya memiliki populasi yang banyak dan pemerintah tidak segan untuk meningkatkan pengeluaran untuk membangun infrastruktur. Anehnya, meski tingkat adopsi AI Indonesia paling tinggi, tapi 59 persen responden Indonesia juga tidak memiliki rencana untuk mengadopsi AI dalam 5 tahun ke depan.
 
"Dengan dampak positif yang sudah terlihat di industri perbankan, manufaktur, kesehatan dan pemerintahan, ada peluang besar agar lebih banyak perusahaan di Asia Tenggara yang menggunakan AI untuk membedakan nilai perusahaan mereka," kata Global Research Director, Big Data and Analytics and Cognitive/AI, IDC Asia/Pacific, Chwee Kan Chua.
 
Sementara itu, masalah yang menghambat adopsi AI adalah kurangnya kemampuan dan pengetahuan dan juga mahalnya harga solusi AI. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA