Foto: Vivo
Foto: Vivo

Beasiswa Lewat NexGen Scholars Dukung Talenta Digital Indonesia

Mohamad Mamduh • 08 Mei 2026 15:30
Ringkasnya gini..
  • Saat ini, jumlah talenta digital nasional baru menyentuh angka 6 juta.
  • Dampak nyata program ini terlihat dari kisah para penerimanya yang mampu berprestasi di tengah keterbatasan ekonomi.
  • Ada pula Arkan Maulana Rizki yang memiliki motivasi tinggi di bidang teknologi energi meski pernah mengalami perundungan.
Jakarta: Memperingati Hari Pendidikan Nasional, vivo Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem teknologi nasional melalui program beasiswa vivo NexGen Scholars. Inisiatif yang telah berjalan sejak 2025 ini dirancang untuk menjawab tantangan besar kebutuhan talenta digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai 9 juta orang pada 2030.
 
Saat ini, jumlah talenta digital nasional baru menyentuh angka 6 juta, sementara angka pengangguran lulusan vokasi masih menjadi perhatian akibat kesenjangan keterampilan dengan kebutuhan industri. Menanggapi hal tersebut, vivo berkolaborasi dengan Hoshizora Foundation dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) untuk memberikan beasiswa penuh kepada 60 mahasiswa terpilih.
 
"Melalui vivo NexGen Scholars, kami ingin membuka lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan industri," ujar Arga Simanjuntak, Public Relations Director vivo Indonesia. Program ini mencakup enam bidang strategis: Teknik Informatika, Sains Data Terapan, Teknik Elektronika, Teknik Telekomunikasi, Teknik Elektro Industri, dan Teknologi Game.

Dampak nyata program ini terlihat dari kisah para penerimanya yang mampu berprestasi di tengah keterbatasan ekonomi. Evan Eka Kurniawan, mahasiswa asal Banyuwangi yang tumbuh di keluarga pedagang kopi, berhasil meraih IPK 3,9 dan aktif dalam pengembangan aplikasi game. Senada dengan Evan, Zahra Adientya Putri dari Tulungagung merasa terbantu karena dapat menempuh pendidikan Teknologi Game tanpa membebani orang tuanya.
 
Di sisi lain, tantangan emosional dan kegagalan teknis tidak menyurutkan semangat mahasiswa lain. Izzal Maula Al Faqiih dari Balikpapan tetap konsisten di bidang Teknik Informatika pasca kehilangan ibunya.
 
Sementara itu, Ubayy Tsany Galiadupda berhasil bangkit dari kegagalan proyek machine learning untuk menciptakan chatbot AI bagi pelaku UMKM. Ada pula Arkan Maulana Rizki yang memiliki motivasi tinggi di bidang teknologi energi meski pernah mengalami perundungan di masa sekolah.
 
Executive Director Hoshizora Foundation, Yudi Anwar, mengungkapkan bahwa program ini memberikan hasil awal yang positif dengan rata-rata IPK mahasiswa mencapai 3,41. Menurutnya, keselarasan antara jurusan yang diambil dengan kebutuhan sektor digital menjadi sinyal kuat kesiapan talenta muda ini untuk terjun ke dunia kerja.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA