Ronni Nurmal - Head of Government and Industry Ericsson Indonesia
Ronni Nurmal - Head of Government and Industry Ericsson Indonesia

Bagaimana AI Mengubah Wajah Infrastruktur Digital Indonesia

Mohamad Mamduh • 01 April 2026 17:46
Ringkasnya gini..
  • Inovasi ini juga merambah ke optimasi perangkat lunak dan manajemen operasional secara keseluruhan.
  • Dalam praktiknya, Ericsson menanamkan AI pada sistem radio yang dideploy di operator untuk memantau berbagai gejala atau simtom teknis.
  • Indonesia memiliki ambisi besar untuk menjadi hub AI di Asia Tenggara, tetapi hal itu sulit tercapai jika infrastruktur 5G masih tertinggal.
Jakarta: Ericsson mengungkapkan bahwa integrasi Artificial Intelligence (AI) ke dalam jaringan seluler telah menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keandalan infrastruktur digital nasional.
 
Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia, menjelaskan konsep AI for Network sebagai penggunaan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan operasional internal jaringan. Salah satu inovasi yang paling berdampak adalah kemampuan sistem untuk melakukan predictive maintenance atau pemeliharaan prediktif.
 
Dalam praktiknya, Ericsson menanamkan AI pada sistem radio yang dideploy di operator untuk memantau berbagai gejala atau simtom teknis. "Dengan AI, kita bisa memprediksi berdasarkan gejala yang ada bahwa sebuah radio berpotensi rusak dalam satu hingga dua minggu ke depan," ujar Ronni.

Kemampuan ini memungkinkan operator untuk mengganti perangkat secara proaktif sebelum terjadi kerusakan total, sehingga mampu memitigasi potensi downtime atau gangguan sinyal yang merugikan pelanggan.
 
Inovasi ini juga merambah ke optimasi perangkat lunak dan manajemen operasional secara keseluruhan. Bagi operator seluler, pemanfaatan AI ini menjanjikan potensi penghematan biaya operasional yang signifikan karena proses pemeliharaan menjadi lebih efisien dan terukur.
 
Selain mengoptimalkan jaringan dari dalam, tantangan berikutnya adalah membangun Network for AI. Fenomena AI hype saat ini telah merubah perilaku konsumsi data masyarakat. Aplikasi berbasis AI, terutama yang bersifat multimodal (gabungan teks, gambar, video, dan suara), membutuhkan karakteristik jaringan yang sangat spesifik: latensi rendah, kecepatan tinggi, dan performa uplink yang kuat.
 
Ronni menekankan bahwa jaringan harus didefinisikan ulang agar mampu mendukung beban kerja (workload) AI, terutama saat pengguna mengakses aplikasi tersebut di luar rumah. Berdasarkan data Consumer Lab, sekitar 46% pengguna di Indonesia diprediksi akan mengakses aplikasi AI saat sedang melakukan perjalanan, komuter, atau berada di tempat umum pada tahun 2030. Kondisi ini menuntut operator untuk menyediakan performa jaringan yang konsisten dan merata di seluruh area, bukan hanya di perkantoran atau pemukiman.
 
Tren global menunjukkan pergeseran identitas di industri telekomunikasi. Perusahaan yang dulunya hanya penyedia pipa konektivitas kini mulai mentransformasi diri menjadi tech company atau bahkan AI company. Hal ini dianggap wajar karena setiap perusahaan berlomba-lomba mendapatkan nilai tambah terbaik melalui transformasi digital.
 
Ronni mengingatkan bahwa status sebagai AI Company tidak akan berarti banyak tanpa tulang punggung konektivitas yang kuat. Indonesia memiliki ambisi besar untuk menjadi hub AI di Asia Tenggara, tetapi hal itu sulit tercapai jika infrastruktur 5G masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia atau Vietnam.
 
"AI memang menjadi tren yang luar biasa, namun konektivitas tetaplah tulang punggungnya," tegas Ronni.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA