Salah satu momen penting dalam acara ini adalah peluncuran ICT Talent White Paper untuk pertama kalinya di luar Tiongkok. Dokumen strategis ini memetakan lanskap kebutuhan tenaga kerja digital, di mana diprediksi akan tercipta 36 juta posisi baru pada tahun 2030 yang sangat bergantung pada keahlian Artificial Intelligence (AI) dan keamanan siber. White paper ini diharapkan menjadi kompas bagi universitas dalam menyusun kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja global.
Baca Juga :
Huawei Gelar Partner Summit 2026, Perkuat Kolaborasi Ekosistem dan Akselerasi Transformasi AI di Indonesia
Dukungan kuat juga datang dari Sekretariat ASEAN melalui implementasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Inisiatif ini diproyeksikan akan mendorong nilai ekonomi digital kawasan hingga mencapai USD 2 triliun pada tahun 2030. Kolaborasi antara Huawei dan ASEAN Foundation tidak hanya fokus pada kompetisi, tetapi juga memperkuat ekosistem startup melalui portal Startup ASEAN yang menghubungkan lebih dari 10.000 perusahaan rintisan.
Melalui tema “Connection, Glory, and Future”, ajang ini membuktikan bahwa sinergi antara teknologi mutakhir dan pengembangan talenta adalah kunci pertumbuhan inklusif. Inovasi yang dipamerkan hari ini menjadi fondasi kokoh bagi Asia-Pasifik untuk memimpin era transformasi digital dunia.
Inovasi yang diperkenalkan dalam ajang ke-10 ini memberikan gambaran jelas bahwa pendidikan masa depan akan jauh lebih personal dan efisien berkat integrasi AI. Dengan peluncuran White Paper dan solusi Smart Classroom, Huawei tidak hanya memberikan alat, tetapi juga peta jalan bagi Asia-Pasifik untuk menjadi pusat inovasi digital dunia. Masa depan yang cerdas bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang sedang dibangun oleh para talenta muda kita hari ini.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News