Ilustrasi: Twilio
Ilustrasi: Twilio

Era Eksperimen AI Berakhir, Fokus Kini pada Implementasi Operasional

Mohamad Mamduh • 05 Mei 2026 18:51
Ringkasnya gini..
  • Selain aspek finansial, teknologi ini juga berhasil meningkatkan aspek kualitas komunikasi.
  • Menurutnya, kunci sukses di pasar Asia adalah kemampuan AI untuk melakukan code-switch secara dinamis.
  • Melihat ke depan, peran AI diprediksi akan semakin dominan.
Jakarta: Lanskap teknologi kecerdasan buatan (AI) global telah memasuki babak baru. Berdasarkan survei terbaru yang dilakukan oleh Twilio terhadap 985 profesional industri seluler di ajang Mobile World Congress (MWC) 2026, organisasi bisnis kini secara resmi beranjak dari fase eksperimen menuju tahap implementasi operasional yang berorientasi pada hasil nyata.
 
Laporan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI percakapan (conversational AI) bukan lagi sekadar tren inovasi, melainkan kebutuhan strategis untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas hubungan dengan pelanggan.
 
Momentum adopsi AI di dunia bisnis tercatat sangat kuat, di mana 60% responden telah aktif menggunakan AI percakapan, sementara 24% lainnya berada dalam tahap uji coba atau perencanaan. Dampak yang dihasilkan pun sangat signifikan; sebanyak 82% pengguna aktif melaporkan hasil yang dapat diukur, termasuk peningkatan efisiensi, penghematan waktu, serta imbal hasil investasi (ROI) yang positif.

Selain aspek finansial, teknologi ini juga berhasil meningkatkan aspek kualitas komunikasi. Sekitar 60% responden mengonfirmasi adanya perbaikan mutu dalam interaksi mereka dengan pelanggan. Peter Bell, Wakil Presiden Pemasaran Twilio untuk Kawasan EMEA, menekankan bahwa fokus industri kini telah bergeser ke arah eksekusi.
 
"Keberhasilan tidak lagi hanya ditentukan oleh inovasi, tetapi oleh kemampuan untuk mengintegrasikan AI ke dalam strategi interaksi harian di seluruh kanal guna menciptakan pengalaman pelanggan yang mulus dan personal," ungkapnya.
 
Di kawasan Asia Pasifik, tantangan implementasi memiliki keunikan tersendiri. Nicholas Kontopoulos, Wakil Presiden Pemasaran Twilio untuk Kawasan APJ, menyoroti pentingnya agen AI yang mampu memahami nuansa lokal.
 
Menurutnya, kunci sukses di pasar Asia adalah kemampuan AI untuk melakukan code-switch secara dinamis, termasuk memadukan dialek dan istilah lokal agar interaksi terasa lebih humanis.
 
Menariknya, survei ini mengungkap bahwa tingkat kepercayaan terhadap tata kelola data berbanding lurus dengan pengalaman penggunaan. Sebanyak 93% pengguna aktif AI menyatakan yakin terhadap keamanan dan perlindungan data mereka. Di sisi lain, hambatan bagi perusahaan yang belum mengadopsi AI umumnya bersifat praktis, seperti biaya implementasi (17%) dan keterbatasan ahli (17%).
 
Melihat ke depan, peran AI diprediksi akan semakin dominan. Sebanyak 59% responden memperkirakan bahwa dalam 12 bulan ke depan, setidaknya seperempat dari seluruh perjalanan pelanggan—mulai dari pemasaran hingga layanan purna jual—akan ditangani oleh agen AI mandiri.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA