Dalam 18th Annual Global Shopper Study tersebut, sebanyak 87% pemimpin perusahaan retail menyatakan bahwa teknologi ini memiliki peran penting dalam membantu upaya pencegahan kerugian di sektor itu.
“Bisnis retail yang mampu berkembang di masa depan dipimpin oleh pemimpin yang tangkas dan mampu menghubungkan “phygital experience” (pengalaman fisik dan digital) melalui alur kerja yang cerdas. Dengan memanfaatkan AI, otomatisasi dan alur kerja lebih baik, perusahaan retail dapat menghadirkan pengalaman cepat, mulus, dan personal, sesuai harapan pembeli saat ini,” ujar Country Manager Indonesia Zebra Technologies Eric Ananda.
Hasil riset juga menunjukkan adanya penurunan tingkat kepuasan pembeli selama dua tahun berturut-turut, baik pada pengalaman berbelanja di toko fisik maupun secara online. Tingkat kepuasan global untuk pengalaman berbelanja di toko fisik tercatat 79% secara global dan 75% di Asia Pasifik, sedangkan kepuasan untuk belanja online berada di 73% secara global dan 69% di Asia Pasifik.
Angka tersebut menurun dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya, saat tingkat kepuasan tertinggi tercatat pada tahun 2023 dengan 85% secara global untuk pengalaman belanja di toko maupun online, serta 81% di Asia Pasifik untuk pengalaman belanja online.
Di tengah tekanan inflasi, preferensi pembeli juga mengalami pergeseran. Sekitar 78% pembeli global dan 74% pembeli di Asia Pasifik memprioritaskan diskon serta promosi saat berbelanja. Selain itu, konsumen juga menyampaikan keluhan terkait berbagai hambatan di toko seperti stok kosong, produk yang disimpan di etalase terkunci, serta terbatasnya jalur pembayaran atau mesin kasir mandiri.
Studi tersebut juga mengungkap bahwa banyak staf toko masih mengalami kesulitan mendapatkan informasi atau bantuan secara tepat waktu. Secara global, 88% staf toko melaporkan kendala tersebut, meningkat dari 82% pada tahun sebelumnya. Sementara di kawasan Asia Pasifik, angkanya meningkat dari 76% menjadi 85%.
Di sisi lain, teknologi dinilai dapat membantu meningkatkan produktivitas dan kepuasan kerja. Sebanyak 87% staf toko secara global dan 84% di Asia Pasifik percaya bahwa penggunaan teknologi yang tepat membuat pekerjaan menjadi lebih menyenangkan serta membantu memberikan pelayanan lebih baik kepada pelanggan.
Mayoritas responden juga menilai teknologi mampu mempercepat penyelesaian tugas, dengan 90% staf toko global dan 86% di Asia Pasifik menyatakan bahwa teknologi membantu mereka bekerja secara lebih efisien.
Sementara itu, pengelolaan inventory masih menjadi tantangan utama yang mempengaruhi pengalaman pelanggan dan kinerja bisnis. Data menunjukkan hampir setengah dari pembeli masih meninggalkan toko tanpa membeli seluruh barang yang mereka inginkan, umumnya karena stok kosong atau kesulitan menemukan produk.
Pengambil keputusan di perusahaan retail juga menyadari pentingnya sinkronisasi inventory secara real-time. Sekitar 84% pengambil keputusan global dan 85% di Asia Pasifik menyebutkan hal ini sebagai prioritas utama organisasi mereka.
Banyak perusahaan retail juga berencana mengadopsi teknologi seperti computer vision, RFID, dan Gen AI dalam lima tahun ke depan untuk meningkatkan visibilitas inventory sekaligus mengurangi penyusutan stok.
Selain meningkatkan operasional, pengelolaan inventory lebih baik juga terbukti berdampak positif pada kinerja keuangan. Studi Zebra bersama Oxford Economics menunjukkan bahwa perusahaan retail dapat mencatat peningkatan pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas hingga 1,8 poin persentase ketika memprioritaskan perbaikan alur kerja inventory.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News