Dalam pembukaannya, Kenneth Poh, Country Manager for Singapore & Philippines, NetApp menyoroti visi strategis Singapura untuk menjadi pusat AI global. Pemerintah Singapura telah menginvestasikan lebih dari USD1 juta dalam penelitian AI nasional serta menyusun rencana pembangunan jangka panjang hingga tahun 2030 untuk memperkuat kapabilitas riset di negara tersebut.
Langkah ini diperkuat dengan penandatanganan perjanjian kerja sama kuantum antara Singapura dan Jepang, yang menandakan keyakinan bahwa konvergensi AI dan teknologi kuantum adalah jalan masa depan yang akan menyelesaikan berbagai tantangan global.
Menjawab tantangan adopsi AI yang sangat cepat, NetApp memperkenalkan solusi infrastruktur modern yang dirancang untuk kecepatan dan skalabilitas. Dalam pidatonya, Kenneth menyebut AI sebagai teknologi yang "Fast and Furious," ketika penyimpanan tradisional sering kali tidak mampu menangani beban kerjanya.
Sebagai solusi, NetApp meluncurkan model AFX, sebuah arsitektur penyimpanan super cepat yang mampu mengintegrasikan aplikasi dengan GPU secara langsung ke dalam Network Storage. Teknologi ini memungkinkan pembangunan Vector Database yang diklaim sebagai "Game Changer" di industri, menawarkan performa yang lebih baik dibandingkan solusi cloud, on-premise, maupun multi-cloud yang ada saat ini.
Isu keamanan siber menjadi topik hangat, terutama terkait ancaman Deep Fake dan ransomware yang semakin canggih akibat AI. Untuk menanggulangi hal ini, NetApp memamerkan fitur perlindungan ransomware berbasis perilaku (behavioral analysis). Sistem ini mempelajari entropi data dan pola serangan, lalu secara otomatis membuat snapshot pemulihan dalam hitungan detik saat ancaman terdeteksi.
Lebih jauh lagi, NetApp menegaskan posisinya sebagai pelopor dalam keamanan masa depan dengan mengumumkan kesiapan infrastruktur mereka terhadap Post-Quantum Cryptography (QQC).
Teknologi enkripsi ini dirancang untuk menahan kemampuan dekripsi super cepat dari komputer kuantum di masa depan. NetApp mengklaim sebagai satu-satunya penyedia penyimpanan di dunia yang telah memiliki kapabilitas ini, sebuah standar yang saat ini bahkan telah digunakan oleh agensi keamanan seperti NSA.
Selain AI dan keamanan, acara ini juga membahas solusi praktis bagi perusahaan yang menghadapi tingginya biaya perangkat lunak virtualisasi. NetApp memperkenalkan Shift Toolkit dan layanan migrasi untuk membantu pelanggan beralih antar-platform virtualisasi atau berpindah ke kontainer menggunakan teknologi Red Hat.
Dalam hal transformasi cloud, sistem operasi ONTAP kini telah diadopsi oleh tiga hyperscaler utama, memungkinkan mobilitas data yang mulus antara on-premise dan hybrid cloud. Pengenalan konsol jaringan UXP juga mempermudah pengelolaan data dengan mekanisme drag and drop dari berbagai lokasi penyimpanan.
Acara NetApp Insight Xtra ini akan dilanjutkan dengan berbagai sesi diskusi panel dan breakout session yang mendalam, membahas strategi teknis bagi perusahaan untuk tetap relevan di tengah disrupsi teknologi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News