Langkah ekspansi ini mempertegas komitmen SEON dalam mendukung ekosistem ekonomi digital Indonesia yang diprediksi mencapai nilai USD120 miliar pada tahun 2026. Seiring dengan pertumbuhan transaksi digital yang naik 40,35% secara tahunan, tantangan berupa serangan penipuan yang terkoordinasi dan regulasi yang semakin ketat menjadi prioritas bagi institusi keuangan.
Untuk menjawab kebutuhan pasar domestik, SEON telah membangun infrastruktur data lokal di Indonesia. Fasilitas ini memastikan pemrosesan data dilakukan di dalam negeri sesuai dengan mandat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sekaligus memungkinkan pengambilan keputusan secara real-time.
Melalui Fraud and AML Command Center, institusi keuangan dapat mendeteksi, menginvestigasi, dan menangani risiko dalam satu sistem terpadu tanpa ketergantungan tinggi pada siklus pengembangan teknologi internal.
Troy Nyi Nyi, Senior Vice President dan GM SEON, menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu pasar fintech paling dinamis dengan lanskap fraud yang kompleks. "Kami telah membangun jejak kuat mulai dari infrastruktur hingga dukungan pelanggan berskala besar untuk mendampingi institusi keuangan memperkuat manajemen risiko mereka," ujarnya.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, SEON telah menyelenggarakan acara RiskTech Connect di Jakarta pada 28 April lalu. Bertajuk AI-Powered Fraud Defense, pertemuan ini menghadirkan para pemimpin di bidang risiko, pembayaran, dan transformasi digital untuk mendiskusikan pemanfaatan AI dalam memperkuat proses onboarding serta monitoring transaksi.
Hingga Januari 2026, OJK mencatat telah memblokir lebih dari 415.000 akun melalui Anti-Scam Centre. Kehadiran SEON dengan lebih dari 900 sinyal data real-time diharapkan dapat menyederhanakan workflow kepatuhan bagi ribuan perusahaan, sekaligus melindungi pendapatan dari ancaman penipuan yang terus berevolusi di pasar Asia Tenggara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News