Huawei dikabarkan menawarkan gaji tinggi untuk merekrut talenta baru di divisi R&D perusahaannya.
Huawei dikabarkan menawarkan gaji tinggi untuk merekrut talenta baru di divisi R&D perusahaannya.

Cari Karyawan, Huawei Tawarkan Gaji Rp1,8 Miliar

Lufthi Anggraeni • 25 Juli 2019 14:22
Jakarta: Huawei Technologies berencana menarik perhatian calon pegawai baru berbakat dengan iming-iming gaji bernilai tinggi. Sebab Huawei berupaya memperkuat tim peneliti perusahaannya, di tengah kisruh larangan perdagangan dengan Amerika Serikat
 
Perusahaan pemasok peralatan telekomunikasi terbesar di dunia ini dilaporkan situs The Star akan merekrut 20 hingga 30 individu berbakat dari seluruh dunia pada tahun ini untuk meningkatkan kemampuannya dalam bersaing.
 
Informasi tersebut diperbincangkan setelah email yang ditandatangani co-founder dan CEO Huawei, Ren Zhengfei, beredar di internet. Rencana ini diumumkan pada hari yang sama saat Huawei merumahkan 600 pegawainya di anak perusahaan R&D miliknya, Futurewei Technologies.

Huawei menyebut gelombang pertama perekrutan ini akan termasuk delapan lulusan baru universitas pada jenjang doktoral, dengan penawaran gaji sebesar antara CNY896.000 atau sekitar USD130.000 (Rp1,8 miliar) hingga CNY2.01 juta atau sekitar USD292.000 (Rp4,08 miliar).
 
Dalam email tersebut, Ren Zhengfei menyebut bahwa Huawei harus memenangkan pertarungan dalam hal teknologi dan komersial di masa depan. Ren juga menyebut perekrutan talenta terdepan ini akan menguntungkan organisasi yang membutuhkan tantangan dan remunerasi terbaik.
 
Inisiatif ini akan diperluas setiap tahunnya sejalan dengan upaya Huawei dalam memperkuat kemampuan bertarungnya. Sementara itu, seorang pegawai Huawei menyebut bahwa diskusi internal terkait paket remunerasi tinggi ini cukup sengit.
 
Huawei, yang diperkirakan akan mengumumkan laporan keuangannya selama paruh pertama tahun 2019 pada 30 Juli ini, masuk ke dalam daftar Entity pemerintahan Amerika Serikat (AS) pada bulan Mei lalu, terkait dengan kekhawatiran menyoal keamanan nasional.
 
Akibatnya, Huawei dilarang untuk membeli hardware, software dan layanan dari pemasok asal AS. Telah diizinkan untuk kembali berbisnis dengan perusahaan AS, Huawei menyebut keputusan AS tidak akan memberikan dampak signifikan untuk perusahaannya.
 
Di tengah kisruh larangan perdagangan oleh AS, Huawei diperkirakan akan mendistribusikan sebanyak 270 juta smartphone di seluruh dunia pada tahun 2019, meningkat sebesar 30 persen jika dibandingkan dengan tahun 2018.
 
Huawei juga telah mendapatkan 50 kontrak peralatan jaringan 5G Mobile komersial di seluruh dunia, 28 di antaranya berasal dari pasar Eropa.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA