Kenyataan ini menimbulkan satu pertanyaan penting: apakah kita, sebagai bagian dari publik yang mencakup pemberi kerja, pendidik, pembuat kebijakan, dan penyedia teknologi, telah mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi dunia kerja yang menuntut keterampilan AI di mana banyak tugas dapat terotomatisasi?
Saat ini, rasanya tidak aneh jika keahlian menggunakan AI telah menjadi hal mendasar. Apalagi, banyak pekerjaan dan tugas yang sudah terotomatisasi. Fenomena ini pun memunculkan tiga tantangan yang perlu menjadi perhatian kita bersama.
Kesenjangan dalam Melihat Urgensi untuk Menguasai Keterampilan AI
Meski pengaruh AI di berbagai industri semakin besar, urgensi bagi tenaga kerja untuk meningkatkan keterampilan di bidang AI masih tergolong rendah. Studi terbaru menunjukkan bahwa semakin tinggi pengetahuan seseorang tentang AI, justru semakin kecil kemungkinan mereka untuk mengadopsinya. Selain itu, masih ada anggapan keliru bahwa literasi AI hanya penting bagi mereka yang bekerja di bidang teknis. Pandangan ini tentu berbahaya.
AI kini relevan untuk hampir semua industri dan pekerjaan. Apalagi, perkembangan platform AI generatif telah membuka akses yang lebih luas terhadap kemampuan AI yang canggih. Mulai dari staf administrasi yang mengurusi kebutuhan komunikasi, tim pemasaran yang menganalisis data kampanye promosi, hingga personel HR yang menyeleksi CV, banyak profesi dapat memanfaatkan platform AI untuk meningkatkan kapabilitas mereka.
Namun, banyak pekerja belum menyadari bahwa literasi AI sudah menjadi kebutuhan mendasar. Akibatnya, banyak lulusan sulit bersaing di pasar tenaga kerja, bahkan untuk posisi entry-level yang kini semakin menuntut keterampilan AI. Maka dari itu, kesadaran akan pentingnya pembelajaran berkelanjutan harus semakin ditingkatkan, terlebih di tengah perkembangan AI yang sangat pesat.
Kolaborasi Sektor Pendidikan dan Industri yang Lebih Mendalam
Sejumlah institusi pendidikan tinggi mulai mengintegrasikan AI ke dalam kurikulumnya. Agar hasilnya dapat terlihat secara nyata, perusahaan pengembang teknologi AI memiliki peran penting. Pesatnya transformasi teknologi membuat “half-life of skills”, atau waktu yang dibutuhkan suatu keterampilan untuk kehilangan setengah relevansinya, semakin menyusut secara drastis.
Riset menunjukkan bahwa periode half-life of skills telah turun dari 10–15 tahun menjadi hanya sekitar 5 tahun, bahkan bisa lebih singkat untuk beberapa keterampilan teknis. Dalam kondisi seperti ini, para profesional perlu membiasakan diri dengan pembelajaran berkelanjutan, dimulai dengan belajar hal-hal baru sedikit demi sedikit. Dengan begitu, mereka bisa memiliki keterampilan yang tetap relevan meskipun teknologi berkembang dengan sangat cepat.
Sayangnya, sistem pendidikan saat ini belum dirancang untuk mengikuti kecepatan perubahan zaman. Kesenjangan ini semakin terasa di institusi untuk masyarakat yang kurang terwakili atau kurang terlayani.
Menurut National Bureau of Economic Research, perguruan tinggi dengan mahasiswa dari latar belakang ekonomi yang mapan cenderung lebih banyak menawarkan mata kuliah yang mengintegrasikan pengetahuan mutakhir dibanding institusi berisikan mahasiswa berpenghasilan rendah.
Maka dari itu, kolaborasi yang kuat antara sektor publik dan swasta menjadi sangat penting untuk menghadirkan penerapan AI di dunia nyata langsung ke ruang kelas. Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada bulan ini, dapat menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan untuk mengambil tindakan nyata dalam membekali anak muda dengan keahlian terkini sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Inisiatif seperti AWS Academy membuktikan dampak nyata dari kolaborasi lintas sektor. AWS Academy adalah program yang menyediakan kurikulum pembelajaran seputar AI dan cloud computing secara gratis bagi lebih dari 6.600 institusi di seluruh dunia.
Baru-baru ini, AWS Academy memperluas jangkauannya dengan memberikan akses gratis bagi mahasiswa AWS Academy untuk mendapatkan pelatihan AI tingkat lanjut dan berbagai sumber daya yang dibutuhkan serta voucher AWS Certifications.
Mendapatkan sertifikasi yang diakui industri seperti AWS Certifications menjadi cara efektif bagi pencari kerja untuk menunjukkan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki kepada pemberi kerja. Dengan begitu, mereka bisa mengungguli kandidat lain dan terus berkembang di posisi yang mereka isi.
Minimnya Rumusan Keterampilan AI di Dunia Kerja
Perkembangan teknologi menuntut kita untuk terus mengembangkan keterampilan. Namun, mencari dan menguasai keterampilan yang relevan di era AI bukan perkara mudah.
Misalnya, literasi AI seperti apa yang perlu dimiliki oleh lulusan jurusan pemasaran atau keuangan? Apa cara terbaik bagi mahasiswa ilmu humaniora untuk memanfaatkan AI agar tetap kompetitif? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini belum bisa terjawab sepenuhnya, sehingga menimbulkan kebingungan bagi mahasiswa maupun pendidik.
Maka dari itu, diperlukan konsorsium lintas industri yang dapat merumuskan apa saja keterampilan AI yang dibutuhkan untuk peran entry-level. Riset terbaru AWS bersama Draup, perusahaan data intelligence, telah mengidentifikasi berbagai peran entry-level yang paling dibutuhkan di industri teknologi beserta keterampilan AI yang diperlukan untuk mendapatkannya.
Temuan seperti ini sangat penting untuk memberikan panduan yang jelas bagi para pelajar. Dengan begitu, mereka dapat mengikuti pelatihan yang relevan untuk meningkatkan peluang mereka dalam mendapatkan pekerjaan.
Ini baru langkah awal. Sektor swasta, pembuat kebijakan, dan dunia pendidikan perlu berkolaborasi lebih erat untuk merumuskan keterampilan AI di berbagai profesi. Upaya ini penting untuk mempersiapkan angkatan kerja berdaya saing tinggi di pasar kerja yang semakin dipengaruhi oleh AI, khususnya mereka yang masih merintis karier.
Tanggung Jawab Bersama
Perkembangan AI yang sangat pesat menghadirkan peluang sekaligus risiko yang belum pernah ada sebelumnya. Jika dimanfaatkan dengan tepat, AI dapat menghilangkan tugas-tugas yang monoton dalam pekerjaan entry-level. Dengan begitu, para profesional muda bisa langsung memberikan kontribusi yang lebih bermakna dan strategis di fase awal karier mereka.
Namun, ini hanya dapat terwujud melalui upaya bersama. Perusahaan perlu melangkah lebih jauh dari sekadar mengadopsi AI dengan menyusun strategi transformasi tenaga kerja yang komprehensif. Institusi pendidikan harus mempercepat pembaruan kurikulum melalui kemitraan dengan industri.
Di sisi lain, para pelajar membutuhkan akses yang lebih mudah untuk meningkatkan literasi AI, terlepas dari bidang studi yang ditekuni. Tantangan ini tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.
Masa depan dunia kerja, dan nasib angkatan kerja berikutnya, bergantung pada kemampuan kita bersama untuk menutup kesenjangan keterampilan AI sejak sekarang. Jika gagal, kita dapat menciptakan kesenjangan tenaga kerja yang amat besar. Mereka yang memiliki literasi AI akan berkembang, sementara yang tidak akan kesulitan meningkatkan taraf ekonominya.
Dengan bertindak sekarang, sejalan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, kita dapat membangun masa depan ketika AI dapat memperkuat potensi manusia di seluruh lapisan masyarakat, dimulai dari mereka yang baru memasuki dunia kerja.
(Michelle Vaz, Managing Director, AWS Training and Certification)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News