Booster tersebut merupakan salah satu booster yang digunakan pada roket Long March 3B, yang berhasil mengirimkan dua satelit ke orbit sebelum booster jatuh. Orang-orang yang tinggal di Xiangdu, yang ada di kawasan Guangxi, merekam kejadian ketika booster roket tersebut jatuh dan meledak.
?????? pic.twitter.com/jBoKBuJt7b
— ChinaSpaceflight (@cnspaceflight) January 12, 2018
Long March 3B meluncur dari Xichang Satellite Launch Center, yang ada di provinsi Sichuan. Berbeda dengan tempat peluncuran roket di Amerika Serikat, pusat peluncuran ini terletak jatuh dari pantai Tiongkok.
Dengan begitu, roket yang diluncurkan dari tempat peluncuran tersebut harus terbang melalui daratan sebelum mencapai orbit.
Itu artinya, ketika roket melepaskan beberapa komponennya -- seperti booster ekstra yang memberikan daya dorong tambahan -- bagian tersebut akan jatuh di daratan, yang mungkin ditinggali oleh orang-orang.
"Ada peringatan untuk warga di tempat pendaratan, tergantung jenis peluncuran dan kemana komponen akan jatuh," kata Andrew Jones, seorang wartawan lepas yang membuat artikel tentang program peluncuran luar angkasa Tiongkok pada The Verge.
"Di beberapa tempat, mereka akan mengevakuasi kota atau sebuah kawasan. Dan mereka akan memperhitungkan tempat pendaratan ini dengan hati-hati, untuk menghindari kawasan yang ditinggali manusia."
Setelah jatuh, warga lokal mendatangi tempat booster untuk mengambil video dari terbakarnya booster tersebut. Booster itu tampaknya tidak melukai siapapun atau merusak bangunan. Namun, Long March menggunakan bahan bakar beracun, seperti hidrazin, yang bisa berbahaya jika mengenai kulit atau dihirup.
Untungnya, sebagian besar bahan bakar yang ada sudah habis sebelum booster terjatuh. Meskipun begitu, bahan bakar yang tersisa tetap bisa membahayakan orang-orang yang datang untuk menonton terbakarnya booster itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News