Ilustrasi: NVIDIA
Ilustrasi: NVIDIA

AI di Sektor Kesehatan Tunjukkan ROI yang Jelas

Mohamad Mamduh • 27 Februari 2026 11:07
Ringkasnya gini..
  • Sebanyak 85 persen eksekutif menyatakan AI berkontribusi pada peningkatan pendapatan.
  • Dari sisi penerapan, medical imaging menjadi salah satu bidang paling dominan.
  • Ke depan, dampak terbesar AI diprediksi hadir dalam efisiensi logistik dan administrasi, mulai dari penjadwalan, dokumentasi, hingga koordinasi perawatan.
Jakarta: Teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin mengukuhkan perannya dalam industri kesehatan global. Survei terbaru yang dirilis NVIDIA pada 2026 menunjukkan peningkatan signifikan dalam adopsi AI, terutama di bidang kesehatan digital, teknologi medis, serta farmasi dan bioteknologi.
 
Menurut laporan tersebut, 70 persen organisasi kesehatan kini aktif menggunakan AI, naik dari 63 persen pada 2024. Lebih spesifik, 69 persen responden telah mengimplementasikan generative AI dan large language models (LLM), sementara 47 persen mulai menilai potensi agentic AI. Tren ini menegaskan bahwa teknologi AI bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan sudah menjadi bagian integral dari operasional kesehatan.
 
Dari sisi penerapan, medical imaging menjadi salah satu bidang paling dominan, dengan 61 persen perusahaan teknologi medis memanfaatkan AI untuk meningkatkan akurasi diagnosis. Di sektor farmasi dan bioteknologi, 57 persen responden menilai AI sebagai pendorong utama dalam penemuan obat baru. Selain itu, clinical decision support, optimasi alur kerja, serta penggunaan chatbot kesehatan virtual juga masuk dalam daftar aplikasi populer.

Survei ini juga menyoroti dampak finansial yang nyata. Sebanyak 85 persen eksekutif menyatakan AI berkontribusi pada peningkatan pendapatan, sementara 80 persen menilai AI membantu menekan biaya operasional. ROI paling menonjol terlihat pada medical imaging (57 persen), drug discovery (46 persen), serta optimasi administrasi dan alur kerja (39 persen).
 
Dari sisi anggaran, prospek investasi AI di sektor kesehatan terlihat semakin cerah. Sebanyak 85 persen responden memperkirakan anggaran AI akan meningkat pada 2026, dengan hampir separuh di antaranya menargetkan kenaikan lebih dari 10 persen. Hal ini menunjukkan keyakinan kuat bahwa AI akan terus menjadi motor inovasi di bidang kesehatan.
 
Selain itu, 82 persen responden menilai open source software dan model AI sangat penting untuk eksplorasi dan pengembangan. Meski demikian, sistem proprietary tetap dianggap krusial demi menjaga keamanan serta kepercayaan dalam lingkungan klinis.
 
Ke depan, dampak terbesar AI diprediksi hadir dalam efisiensi logistik dan administrasi, mulai dari penjadwalan, dokumentasi, hingga koordinasi perawatan. Para ahli menekankan bahwa keberhasilan implementasi AI bergantung pada integrasi yang mulus ke dalam alur kerja, bukan sekadar sebagai alat tambahan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA