Berdasarkan laporan terbaru 2026 Global AI Report: A Playbook for AI Leaders yang dirilis oleh NTT Data, kini muncul jurang pemisah ekonomi yang semakin lebar antara perusahaan yang serius mengintegrasikan AI dengan mereka yang sekadar ikut-ikutan. Fenomena ini disebut sebagai Kesenjangan Ekonomi Baru.
Data penelitian yang melibatkan 2.500 pengambil keputusan senior di 35 negara menunjukkan fakta yang mengejutkan: Kelompok yang disebut sebagai AI Leaders—yakni 15% perusahaan dengan strategi AI paling matang—memiliki kemungkinan 2,5 kali lipat lebih besar untuk mencatat pertumbuhan pendapatan di atas 10% dibandingkan kelompok lainnya.
Di saat ekonomi global penuh dengan ketidakpastian, para pemimpin AI justru memanen keuntungan nyata. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa 33,8% dari kelompok pemimpin ini beroperasi dengan margin keuntungan di atas 15%. Sebagai perbandingan, hanya 9,4% dari kelompok AI Laggards (perusahaan yang tertinggal dalam adopsi AI) yang mampu mencapai angka serupa.
Pertanyaannya, apa yang dilakukan para pemimpin ini secara berbeda? Jawabannya terletak pada konsep Full Fusion. Jika perusahaan pada umumnya memperlakukan AI sebagai proyek sampingan atau eksperimen departemen IT, para pemimpin AI telah menyatukan strategi AI ke dalam inti strategi bisnis mereka. Bagi mereka, AI bukan lagi suplemen, melainkan rencana bisnis itu sendiri.
Salah satu pendorong utama kesenjangan ini adalah kemampuan untuk melakukan industrialisasi AI. Laporan NTT Data mencatat bahwa pemimpin AI telah beranjak dari sekadar uji coba (pilots) menuju skala operasional yang masif. Mereka memanfaatkan Agentic AI—sistem AI yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara mandiri dalam rantai pasok, layanan pelanggan, hingga manajemen risiko.
Selain itu, perusahaan besar dengan lebih dari 50.000 karyawan cenderung mendominasi kategori pemimpin ini. Skala ekonomi memungkinkan mereka untuk berinvestasi pada infrastruktur Private AI dan Sovereign AI yang menjaga keamanan Data sekaligus memberikan keunggulan kompetitif yang sulit dikejar oleh kompetitor yang lebih kecil atau lambat.
Kesenjangan ini juga terlihat jelas antar industri. Sektor asuransi dan barang konsumsi (CPG) memimpin di garda depan, dengan tingkat adopsi pemimpin AI yang lebih tinggi dibanding sektor perbankan atau energi. Di sektor asuransi, misalnya, penggunaan AI untuk penilaian risiko secara real-time telah memberikan efisiensi yang langsung berdampak pada laba bersih.
"Nasib ekonomi organisasi kini bergantung langsung pada seberapa cepat dan bertanggung jawab mereka dapat mengindustrialisasikan AI," tulis laporan tersebut. Tanpa langkah berani untuk melakukan transformasi total, jurang pendapatan ini diprediksi akan terus melebar, meninggalkan mereka yang terlambat di belakang sejarah digital yang baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News