Ilustrasi: Akamai
Ilustrasi: Akamai

Akselerasi AI di Asia-Pasifik Picu Lonjakan Serangan API

Mohamad Mamduh • 08 April 2026 15:05
Ringkasnya gini..
  • Di seluruh wilayah APAC, berbagai organisasi berlomba untuk menanamkan AI ke dalam layanan digital inti.
  • Sektor ritel, jasa keuangan, telekomunikasi, dan teknologi tinggi menjadi sasaran utama karena tingginya volume transaksi berbasis API.
  • Di era AI, ketahanan lapisan API akan menjadi penentu utama kepercayaan pelanggan.
Jakarta: Gelombang adopsi Artificial Intelligence (AI) yang masif di kawasan Asia-Pasifik (APAC) kini menghadapi tantangan keamanan yang sangat serius. Berdasarkan laporan terbaru State of the Internet (SOTI) 2026 dari Akamai, ketergantungan pada strategi AI-first telah memperlebar kesenjangan keamanan pada Application Programming Interface (API).
 
Di seluruh wilayah APAC, berbagai organisasi berlomba untuk menanamkan AI ke dalam layanan digital inti, mulai dari layanan pelanggan hingga manajemen keuangan dan otomatisasi rantai pasokan. Namun, momentum ini dibangun di atas fondasi API yang semakin banyak mengalami serangan, menciptakan kerentanan kritis di pusat pertumbuhan digital kawasan ini.
 
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025, Akamai mencatat hampir 65 miliar serangan terhadap aplikasi web dan API di APAC, meningkat 23% dibandingkan tahun sebelumnya. Secara global, serangan API harian tumbuh hingga tiga digit, dengan 87% organisasi melaporkan insiden keamanan terkait API pada tahun yang sama. Selain itu, serangan DDoS Layer 7 meningkat 104% dalam dua tahun terakhir.

Berbeda dengan serangan tradisional yang membebani bandwidth, serangan Layer 7 menargetkan proses yang menangani permintaan pengguna, sehingga secara langsung mengganggu layanan digital dan transaksi yang menjadi andalan organisasi.
 
Penyerang kini tidak hanya mengeksploitasi celah teknis, tetapi mulai beralih ke penyalahgunaan logika bisnis. Sebanyak 61% serangan API di APAC melibatkan aktivitas abnormal dan alur kerja tidak sah, di mana penyerang memanipulasi aplikasi dengan cara yang tidak semestinya seperti otomatisasi transaksi ilegal atau pencurian data.
 
Penggunaan bot bertenaga AI yang meniru lalu lintas manusia juga semakin sering digunakan untuk menguras token AI yang mahal. Sektor ritel, jasa keuangan, telekomunikasi, dan teknologi tinggi menjadi sasaran utama karena tingginya volume transaksi berbasis API.
 
Pesatnya inovasi, termasuk tren vibe coding atau pengembangan low-code berbasis AI, sering kali mengabaikan aspek keamanan dan memicu kesalahan konfigurasi pada lingkungan produksi. Reuben Koh dari Akamai menekankan bahwa organisasi harus memperkuat tata kelola operasional dan visibilitas API guna memitigasi risiko.
 
Langkah krusial yang diperlukan meliputi pemantauan real-time di seluruh tumpukan sistem, pengelolaan ketat terhadap agen AI, serta integrasi keamanan sejak tahap pengembangan hingga runtime.
 
Di era AI, ketahanan lapisan API akan menjadi penentu utama kepercayaan pelanggan dan keberlangsungan bisnis jangka panjang bagi organisasi di seluruh kawasan Asia-Pasifik.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA