Tidak hanya itu, exoskeleton tersebut diklaim mampu meningkatkan daya tempur prajurit secara drastis, dan membuat prajurit dapat mengangkat beban hingga lebih dari 270 kilogram per-orang. Teknologi ini mereka namai neuroelectronic interface, yang memungkinkan pengguna exoskleleton dapat mengontrol alat tersebut melalui pikiran, sehingga gerakannya menjadi lebih responsif.
Exoskeleton sebenarnya bukan merupakan ide baru di dunia militer. Sebelumnya, Amerika Serikat juga sempat mengembangkan sebuah exoskeleton untuk kebutuhan militer yang diberinama Fortis. Exoskeleton tersebut pun kini masih dalam tahap pengembangan dan diperkirakan akan mulai dipakai dalam beberapa tahun ke depan. Tidak hanya AS, Okinawa National College of Technology juga sempat mengembangkan Skeletonics exoskeleton, namun ditujukan untuk keperluan komersil, bukan militer. (Tweak Town)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News