Laporan terbaru dari NTT Data berjudul 2026 Global AI Report: A Playbook for AI Leaders mengungkapkan bahwa Agentic AI kini menjadi pilar utama bagi perusahaan-perusahaan yang ingin mengindustrialisasikan kecerdasan buatan.
Berbeda dengan sistem AI tradisional yang bersifat pasif, Agentic AI memiliki kemampuan untuk bertindak, mengambil keputusan, dan menyelesaikan tugas kompleks tanpa instruksi mendetail di setiap langkahnya.
Perbedaan mendasar antara GenAI biasa dengan Agentic AI terletak pada agensi atau kemandiriannya. Jika kita meminta GenAI biasa untuk membantu merencanakan perjalanan, ia akan memberikan daftar rekomendasi.
Namun, Agentic AI melangkah lebih jauh: ia dapat masuk ke sistem pemesanan, membandingkan harga secara real-time, memesan tiket, hingga menyesuaikan jadwal jika terjadi penundaan penerbangan secara otomatis.
Dalam konteks korporasi, transformasi ini mengubah wajah operasional bisnis. Di bagian rantai pasok (supply chain), misalnya, sistem AI tidak lagi hanya memberikan peringatan bahwa stok barang menipis.
Agentic AI mampu menganalisis tren pasar, menghubungi pemasok secara mandiri, melakukan negosiasi harga berdasarkan parameter yang ditentukan, dan mengeksekusi pembelian tanpa campur tangan manusia.
Laporan NTT Data menyoroti bahwa penggunaan Agentic AI merupakan salah satu ciri khas dari kelompok AI Leaders—15% perusahaan yang telah memetik keuntungan finansial nyata dari AI. Bagi perusahaan-perusahaan ini, Agentic AI adalah kunci untuk mencapai skala ekonomi yang masif.
Di sektor asuransi, teknologi ini mulai digunakan untuk menangani klaim dari awal hingga akhir. AI bertindak sebagai agen yang memverifikasi dokumen, mendeteksi potensi kecurangan, hingga menyetujui pembayaran klaim dalam hitungan menit.
Begitu pula di sektor layanan pelanggan, di mana Agentic AI tidak hanya menjawab pertanyaan melalui chatbot, tetapi benar-benar menyelesaikan masalah teknis pengguna dengan mengakses sistem internal perusahaan secara aman.
Meski menjanjikan efisiensi luar biasa, transisi menuju Agentic AI bukannya tanpa hambatan. Memberikan wewenang bagi AI untuk bertindak atas nama perusahaan membawa risiko baru. Masalah akuntabilitas menjadi krusial: siapa yang bertanggung jawab jika agen AI membuat keputusan finansial yang salah?
Oleh karena itu, laporan NTT Data menekankan pentingnya kerangka kerja Responsible AI (AI yang Bertanggung Jawab). Para pemimpin AI saat ini sedang berinvestasi besar-besaran pada sistem keamanan yang disebut human-in-the-loop, ketika manusia tetap memiliki kontrol pengawasan tertinggi terhadap tindakan-tindakan kritis yang diambil oleh agen AI.
Memasuki tahun 2026, adopsi Agentic AI diperkirakan akan menjadi standar baru dalam kompetisi digital. Organisasi yang masih terjebak pada penggunaan AI hanya untuk pencarian informasi atau pembuatan konten sederhana akan tertinggal jauh di belakang.
"Era di mana AI hanya menjadi asisten yang menjawab pertanyaan sudah lewat. Kita kini memasuki era AI adalah rekan kerja otonom yang mampu menjalankan visi bisnis menjadi aksi nyata," pungkas laporan tersebut. Dengan kemampuan untuk bertindak, Agentic AI sudah menjadi mesin penggerak baru bagi ekonomi global di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News