Ilustrasi: Kaspersky
Ilustrasi: Kaspersky

Bahaya Sharenting, Orang Tua Harus Lebih Bijak Jaga Privasi Anak

Mohamad Mamduh • 15 Mei 2026 23:13
Ringkasnya gini..
  • Adanya risiko tersembunyi seperti profiling dan penyalahgunaan data pribadi jika pengaturan privasi diabaikan.
  • Sekitar 85% orang tua percaya mereka dapat menghindari pengunggahan informasi identitas pribadi (PII) seperti alamat rumah atau sekolah.
  • Menghapus akun lama yang tidak terpakai dan membatasi akses konten hanya untuk keluarga dekat dapat menjadi benteng awal yang efektif.
Jakarta: Tren membagikan momen pengasuhan atau sharenting di media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern. Meski bertujuan mendokumentasikan kenangan atau membangun komunitas, praktik ini menyimpan risiko siber yang signifikan bagi anak-anak.
 
Penelitian terbaru bertajuk Small Shares, Big Risks yang dilakukan oleh Kaspersky bekerja sama dengan Singapore Institute of Technology (SIT) mengungkapkan bahwa kepercayaan diri dan insting orang tua menjadi kunci utama dalam perlindungan privasi digital anak. Studi yang melibatkan 152 responden dari berbagai negara, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua merasa mampu mengambil langkah proaktif.
 
Sekitar 85% orang tua percaya mereka dapat menghindari pengunggahan informasi identitas pribadi (PII) seperti alamat rumah atau sekolah, serta menghindari foto yang berpotensi memalukan bagi anak di masa depan.

Trisha Octaviano, Manajer Senior Edukasi Keamanan Siber Kaspersky, menyoroti peran usia dan gender. Seiring bertambahnya usia, orang tua cenderung lebih peka terhadap ancaman digital. Selain itu, naluri protektif ibu terbukti menghasilkan perilaku berbagi yang lebih hati-hati di ruang siber dibandingkan ayah.
 
Namun, Profesor Jiow Hee Jhee dari SIT memperingatkan adanya risiko tersembunyi seperti profiling dan penyalahgunaan data pribadi jika pengaturan privasi diabaikan. Para ahli menyarankan orang tua untuk secara rutin meninjau pengaturan privasi, menonaktifkan fitur geotagging pada foto, dan mulai berdiskusi dengan anak sebelum mengunggah konten mereka.
 
Langkah sederhana seperti menghapus akun lama yang tidak terpakai dan membatasi akses konten hanya untuk keluarga dekat dapat menjadi benteng awal yang efektif. Dengan literasi digital yang kuat, orang tua dapat terus berbagi kebahagiaan tanpa mengorbankan keamanan masa depan anak.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA