Untuk membantu memperluas cakupannya pada bisnis layanan, laporan terbaru menyebut bahwa Apple secara pribadi bertemu dengan 30 pengembang di New York pada tahun lalu. Apple mencoba meyakinkannya dengan membebankan biaya berlangganan untuk aplikasi mereka.
Selama pertemuan tersebut, yang dilakukan pada bulan April 2017, Apple dikabarkan memberitahukan pengembang bahwa mereka seharusnya mengubah cara pembayaran sebanyak satu kali menjadi per bulan, via metode berlangganan untuk aplikasi mereka.
Pada bagian dalam perusahaan Apple, inisiatif ini dikenal pegawai sebagai Subscription 2.0. Hanya terdapat sebanyak 30 ribu aplikasi pada App Store yang mengharuskan pengguna untuk berlangganan, meski sejumlah aplikasi di antaranya telah memiliki pelanggan dalam jumlah besar seperti Netflix dan Tinder.
Pertemuan tersebut dilaporkan berhasil pada level tertentu, sebab sejumlah pengembang memutuskan untuk menawarkan aplikasi mereka dengan metode berlangganan. Hal ini membantu meningkatkan pendapatan berlangganan dari Apple dan perusahaan pihak ketiga menjadi USD300 juta (Rp4,3 triliun) selama kuartal ketiga 2018.
Apple mendapat sebesar 30 persen dari pendapatan berlangganan tahun pertama aplikasi, yang berkurang menjadi 15 persen pada tahun kedua. Pendapatan sebesar 70 persen diberikan Apple kepada pengembang, menawarkan mereka insentif cukup besar untuk beralih ke metode berlangganan pada aplikasi.
Facetune2 merupakan salah satu aplikasi yang disebutkan pada laporan memutuskan untuk beralih ke metode berlangganan tersebut. Aplikasi editor selfie ini merupakan salah satu aplikasi iOS berbayar dengan unduhan terbanyak di Amerika Serikat pada minggu lalu.
Dinilai bermanfaat bagi pengembang dan Apple, metode berlangganan pada aplikasi ini disambut sejumlah pengguna perangkat iOS kurang baik, yang menyatakan keberatannya untuk membayar lebih banyak setiap bulannya akibat harus berlangganan aplikasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News