Jelas, perusahaan smartphone tidak ingin membuat perangkat mereka mudah diperbaiki -- jika konsumen membeli ponsel baru, ini akan berdampak baik pada keuangan mereka -- tapi ponsel yang sulit atau tidak mungkin diperbaiki terbukti menjadi masalah besar.
Seperti yang disebutkan oleh Engadget, jika sebuah perangkat tidak bisa diperbaiki, kemungkinan, ia akan dibuang begitu saja. Hal ini akan membuat e-waste atau sampah elektronik terus bertambah. Sebuah studi yang dirilis tahun ini menunjukkan bahwa jumlah sampah elektronik di Asia Timur dan Tenggara telah tumbuh 63 persen dalam kurun waktu 5 tahun, dari 2010 ke 2015, dengan total mencapai 12,3 juta ton.
Sebagian dari negara-negara di kawasan itu baru saja membuat peraturan terkait pembuangan sampah elektronik. Namun, regulasi tidak selamanya dijalankan dengan benar. Misalnya, beberapa tahun lalu, di Eropa, diketahui bahwa 65 persen sampah elektronik tidak didaur ulang seperti seharusnya.
Perangkat mobile yang mudah untuk diperbaiki dapat mengurangi jumlah e-waste. Sayangnya, kemudahan perbaikan bukanlah sesuatu yang diutamakan oleh perusahaan dalam pembuatan smartphone, tablet dan laptop. Greenpeace kemudian bekerja sama dengan iFixit.
Dengan memperhitungkan waktu yang diperlukan untuk memperbaiki sebuah perangkat, kemampuan perangkat untuk diperbaiki atau ditingkatkan dan ketersediaan suku cadang, dibuatlah daftar nilai kemudahan perbaikan sebuah perangkat. Daftar ini berisi lebih dari 40 perangkat yang diluncurkan antara 2015 dan 2017.
Dari semua perangkat yang dinilai itu, hanya satu smartphone yang mendapatkan nilai sempurna, yaitu Fairphone 2, smartphone modular yang masing-masing bagiannya bisa digantikan ketika diperlukan, sehingga pengguna tidak perlu membeli smartphone baru. Sementara untuk tablet, HP Elite X2 berada di posisi teratas. Untuk laptop, Dell Latitude E5270 dan HP Elitebook 840 G3 merupakan laptop yang paling mudah diperbaiki.
Salah satu hal yang mengurangi nilai kemudahan perbaikan sebuah perangkat adalah pengeleman baterai, yang membuatnya tidak bisa diganti. Selain itu, kesulitan untuk mendapatkan alat untuk memperbaiki sebuah perangkat juga akan mengurangi nilai. Kedua hal ini adalah dosa yang Apple lakukan. Faktanya, Apple, Samsung dan Microsoft memiliki banyak produk dengan nilai terendah.
Greenpeace dan iFixit telah membahas tentang perusahaan dan praktek yang mendorong penumpukan sampah elektronik. Mereka juga memuji perusahaan yang telah membantu mengurangi e-waste.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News