Ben Panic, yang memimpin tim ahli teknologi dan industri telco global di Red Hat, meringkas empat domain utama yang ia lihat di MWC: Horizontal Telco Cloud, Virtualisasi, AI (Kecerdasan Buatan), dan Sovereign Cloud. Horizontal Telco Cloud menjadi salah satu topik terhangat. Panic menjelaskan bahwa ini adalah pergeseran dari model vertikal tradisional, ketika operator terikat pada satu vendor untuk perangkat keras, perangkat lunak, dan dukungan.
"Apa yang dikatakan oleh solusi horizontal adalah Anda dapat membawa perangkat keras dari pemasok mana pun yang Anda inginkan, jadi Dell, HPE, Supermicro, siapa pun itu," jelasnya.
"Anda kemudian dapat memilih perangkat lunak, sehingga aplikasi, Anda dapat memiliki inti 4G dari Ericsson dan Nokia, dapat membawa beberapa inti, yang melakukan dua hal. Satu hal, itu memberi redundansi dalam hal aplikasi... Kedua, jelas bisa memainkan vendor A dan vendor B dari perspektif harga, sehingga bisa menurunkan biaya operasional dengan cara itu, dan kemudian itu memberi fleksibilitas pilihan."
Menurut Ben, tidak ada operator global yang kembali dari horizontal cloud ke vertical cloud setelah melakukan transisi, menunjukkan bahwa fleksibilitas platform terbuka sangat penting, terutama untuk memanfaatkan akselerator seperti GPU yang dibutuhkan AI.
Di tengah adopsi horizontal cloud yang pesat, dua domain baru—AI dan sovereign cloud—juga mencuat. Sebagian besar telco saat ini berfokus pada kasus penggunaan internal AI, seperti otomatisasi, operasi jaringan berbantuan AI, dan peningkatan pengalaman pelanggan melalui chatbot.
Sementara itu, sovereign cloud (awan berdaulat) adalah topik besar di APAC dan EMEA, termasuk di Indonesia. Inisiatif ini didorong oleh fokus negara-negara untuk menjaga data di dalam negeri (onshore) dan memastikan mereka tidak terlalu bergantung pada hyperscaler publik yang sebagian besar berbasis di AS.
Telco dinilai berada di posisi yang baik untuk menyediakan layanan ini karena memiliki infrastruktur, posisi regulasi, dan pengalaman operasional.
Mengenai Indonesia, Ben mengakui bahwa secara historis pasar telko di sini mengadopsi solusi vertikal, namun saat ini tren horizontal cloud mulai berkembang. Indonesia memiliki peluang unik karena dapat memanfaatkan semua pelajaran dan blueprint yang telah dibangun oleh telco di pasar yang lebih matang seperti Jepang, Korea, dan India.
Modernisasi menjadi topik mendesak karena pasar Indonesia yang sangat kompetitif. Operator perlu dapat menerapkan penawaran baru dalam hitungan jam dan menit, bukan bulan dan hari untuk menghasilkan pendapatan baru. Selain membantu pendapatan (top line), modernisasi juga menurunkan biaya operasional dengan mengurangi technical debt yang timbul dari menjalankan aplikasi dan perangkat keras lama yang beragam.
Dalam hal prioritas investasi, Ben menyarankan untuk mendahulukan modernisasi jaringan. "Jika ingin mendorong pendapatan dari AI di tahun-tahun mendatang, Anda harus memodernisasi jaringan terlebih dahulu dan membuatnya terbuka dan horizontal. Jika memiliki jaringan tertutup, Anda akan terkunci pada satu mitra, yang membatasi kemampuan Anda untuk berinovasi."
Proses modernisasi ini, yang diperkirakan akan memakan waktu dua hingga tiga tahun untuk dioperasionalisasikan, sebagian besar akan mengikuti pendekatan migrasi—membangun platform baru di samping sistem lama alih-alih melakukan rip and replace (pembongkaran total). Jangka panjangnya, fokus besar bagi operator adalah bergerak dari telco menjadi techco (perusahaan teknologi), yang merupakan langkah terbesar menuju evolusi menjadi perusahaan yang didorong oleh AI sekitar tahun 2030.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News