Ilustrasi: NVIDIA
Ilustrasi: NVIDIA

Demi Hijau, Misi AI Pangkas Tagihan Listrik dan Emisi Karbon Industri Telko

Mohamad Mamduh • 24 Februari 2026 13:10
Ringkasnya gini..
  • Saat trafik menurun, AI secara otomatis akan menempatkan komponen perangkat keras tertentu dalam mode tidur (sleep mode).
  • AI digunakan untuk mengoptimalkan sistem pendinginan secara dinamis berdasarkan beban kerja server dan suhu lingkungan luar.
  • Industri kini beralih menggunakan akselerator perangkat keras (seperti GPU hemat energi) yang dirancang khusus untuk menjalankan tugas AI.
Jakarta: Di balik kemudahan kita mengunduh video 4K atau melakukan panggilan video tanpa putus, terdapat infrastruktur raksasa yang bekerja tanpa henti. Industri telekomunikasi global adalah salah satu konsumen energi terbesar di dunia, dengan ribuan menara transmisi (BTS) dan pusat data yang menelan daya listrik masif setiap detiknya.
 
Laporan terbaru dari NVIDIA, State of AI in Telecommunications: 2026 Trends, membawa kabar baik bagi planet kita: Kecerdasan Buatan (AI) kini menjadi senjata utama dalam menciptakan industri seluler yang lebih ramah lingkungan atau Green Telco.
 
Salah satu pemborosan energi terbesar dalam jaringan seluler terjadi ketika infrastruktur tetap bekerja dengan kapasitas penuh meskipun trafik data sedang rendah—misalnya pada pukul tiga pagi saat sebagian besar pengguna sedang tidur. Secara tradisional, mematikan komponen jaringan secara manual sangat berisiko karena dapat menyebabkan gangguan sinyal mendadak jika ada kebutuhan darurat.

Di sinilah AI berperan sebagai manajer energi yang cerdas. Dengan algoritma pembelajaran mendalam (deep learning), sistem dapat memprediksi pola lalu lintas data dengan akurasi sangat tinggi hingga ke level per menit.
 
Saat trafik menurun, AI secara otomatis akan menempatkan komponen perangkat keras tertentu dalam mode tidur (sleep mode) dan segera membangunkannya kembali beberapa milidetik sebelum trafik melonjak. Teknologi ini memungkinkan penghematan energi yang signifikan tanpa mengorbankan pengalaman pengguna sedikit pun.
 
Selain menara pemancar, pusat data (data center) yang memproses triliunan gigabyte informasi juga menjadi fokus utama. Laporan NVIDIA mencatat bahwa pendinginan perangkat keras adalah komponen biaya energi terbesar kedua setelah pemrosesan data itu sendiri.
 
AI digunakan untuk mengoptimalkan sistem pendinginan secara dinamis berdasarkan beban kerja server dan suhu lingkungan luar. Dengan mengatur aliran udara dan distribusi beban kerja secara cerdas, operator dapat mengurangi konsumsi energi pendinginan hingga 30%. Bagi perusahaan telekomunikasi, ini juga soal efisiensi bisnis yang nyata di tengah fluktuasi harga energi global.
 
Laporan tersebut mengungkapkan fakta menarik bahwa 90% eksekutif telekomunikasi kini melihat AI sebagai pilar penting untuk mencapai target Net Zero Emission. Bukan lagi sekadar tren pemasaran, efisiensi energi berbasis AI kini menjadi syarat mutlak bagi investor dan regulator yang semakin peduli pada isu lingkungan (ESG).
 
"Efisiensi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan operasional," tulis laporan tersebut. Dengan meningkatnya adopsi jaringan 5G dan persiapan menuju 6G yang membutuhkan lebih banyak perangkat fisik, tanpa bantuan AI, jejak karbon industri ini dikhawatirkan akan membengkak tak terkendali.
 
Tantangan besar tetap ada. Menjalankan model AI itu sendiri membutuhkan daya komputasi yang besar. Oleh karena itu, industri kini beralih menggunakan akselerator perangkat keras (seperti GPU hemat energi) yang dirancang khusus untuk menjalankan tugas AI dengan rasio performa-per-watt yang jauh lebih baik dibandingkan prosesor konvensional.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA