Ilustrasi: Fortinet
Ilustrasi: Fortinet

Ancaman Siber Berbasis AI dan Kompleksitas Tantang Kesiapan Perusahaan

Mohamad Mamduh • 12 Mei 2026 18:36
Ringkasnya gini..
  • Tekanan operasional semakin tinggi karena volume alert menyulitkan 46% organisasi untuk membedakan ancaman nyata.
  • Organisasi mengharapkan manfaat signifikan dari konsolidasi.
  • Pemanfaatan penuh potensi AI sangat bergantung pada tersedianya lingkungan yang terintegrasi serta fondasi data yang terpadu.
Jakarta: Organisasi di seluruh Asia Pasifik, termasuk Indonesia, sedang berjuang menghadapi laju kompleksitas keamanan siber dan ancaman berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang terus meningkat, yang kini mulai membebani kemampuan respons mereka saat ini.
 
Temuan ini diungkapkan dalam studi terbaru dari Fortinet yang dilakukan oleh Forrester Consulting. Studi tersebut menemukan adanya pergeseran yang jelas di kawasan ini menuju penyederhanaan arsitektur keamanan dan integrasi AI ke dalam platform terpadu untuk mengatasi kesenjangan kesiapan.
 
Risiko siber saat ini dipicu oleh dua faktor utama: ancaman eksternal dan kompleksitas internal. Secara eksternal, sebanyak 69% organisasi menyebut ancaman berbasis AI sebagai kekhawatiran utama. Secara internal, 64% responden menyoroti fragmentasi alat dan arsitektur, serta volume peringatan keamanan (alert overload) yang berlebihan.

Tekanan operasional semakin tinggi karena volume alert menyulitkan 46% organisasi untuk membedakan ancaman nyata, dan 43% masih mengandalkan alur kerja manual. Tingkat kematangan keamanan siber masih terbatas, dengan 68% organisasi berada pada tahap menengah dan hanya 16% yang mencapai tingkat lanjut. Temuan ini menegaskan bahwa kompleksitas tidak lagi sekadar tantangan operasional, tetapi telah menjadi pendorong utama risiko siber.
 
Menghadapi kondisi ini, organisasi mempercepat adopsi arsitektur keamanan terpadu berbasis platform. Saat ini, baru 29% yang mengoperasikan platform terpadu, namun angka ini diproyeksikan melonjak tajam menjadi 60% dalam 12 hingga 24 bulan ke depan. Pergeseran ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk mengurangi keragaman alat (58%), meningkatkan integrasi (52%), dan mengelola kompleksitas lingkungan hybrid (49%).
 
Organisasi mengharapkan manfaat signifikan dari konsolidasi. Sebanyak 90% memproyeksikan peningkatan metrik operasional, dengan lebih dari 60% memproyeksikan peningkatan setidaknya 10% dalam waktu deteksi dan respons, serta produktivitas analis. Meskipun demikian, biaya migrasi (51%) dan keraguan terhadap kemampuan platform lintas domain (46%) masih menjadi tantangan yang dihadapi.
 
Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia, menjelaskan bahwa fragmentasi alat, visibilitas terbatas, dan volume alert yang terus meningkat mempersulit deteksi dan respons ancaman. "Mereka ingin memanfaatkan AI untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi, namun sering kali belum memiliki fondasi terintegrasi untuk mewujudkan hal tersebut," ujarnya.
 
Terkait AI, 95% organisasi berencana meningkatkan anggaran AI mereka, dengan lebih dari separuh memperkirakan pertumbuhan dua digit. Lebih dari 60% responden meyakini AI akan meningkatkan akurasi deteksi dan mempercepat respons. Namun, gap kesiapan masih terlihat karena lingkungan yang terfragmentasi, otomatisasi yang terbatas, dan kurangnya data terpadu menghambat penerapan AI yang efektif.
 
Hal ini menggarisbawahi bahwa pemanfaatan penuh potensi AI sangat bergantung pada tersedianya lingkungan yang terintegrasi serta fondasi data yang terpadu.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA