Ilustrasi: Schneider Electric
Ilustrasi: Schneider Electric

Industri Data Center Indonesia Melesat, Target 1,6 Gigawatt Akhir Tahun

Mohamad Mamduh • 21 Mei 2026 14:54
Ringkasnya gini..
  • Pertumbuhan ini mencerminkan lompatan besar.
  • Lonjakan kepadatan daya (density) ini memicu panas ekstrem, sehingga sistem pendingin udara konvensional (room cooling) tidak lagi efektif.
  • Tantangan besar lainnya adalah ketersediaan energi bersih dan air.
Jakarta: Industri pusat data (data center) di Indonesia sedang mengalami akselerasi yang masif. Berdasarkan data terbaru dari Indonesia Data Center Provider Association (IDPRO), kapasitas data center nasional yang sudah berjalan hingga pertengahan tahun ini telah mencapai 637 Megawatt (MW).
 
Angka ini diproyeksikan akan melonjak drastis hingga menyentuh angka 1,6 Gigawatt (GW) pada akhir tahun. Lonjakan ini didorong oleh pertumbuhan eksponensial ekonomi digital serta masifnya adopsi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) di tanah air.
 
Ketua Umum IDPRO Hendra Suryakusuma mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini mencerminkan lompatan besar sejak asosiasi ini didirikan pada tahun 2016, yang kala itu hanya mengoperasikan daya sekitar 32 MW dari 5 anggota. Saat ini, jumlah anggota aktif telah berkembang menjadi 21 penyedia data center yang melayani berbagai kebutuhan dari skala kecil hingga perusahaan raksasa (hyperscaler) seperti Google, Amazon, Alibaba, dan Tencent.
 

Daya Tarik Geopolitik dan Potensi Pasar Makro

Indonesia menjadi magnet baru bagi investor global berkat stabilitas kawasan geopolitik yang dinilai relatif aman dan damai dibandingkan wilayah lain seperti Timur Tengah. Salah satu buktinya adalah langkah calon anggota IDPRO, DAMAC Digital dari Dubai, yang menaikkan komitmen investasinya secara fantastis dari 100 MW menjadi 1 GW.

Dari sisi makro, potensi pasar Indonesia memang sangat menggiurkan. Dengan populasi mencapai 286 juta jiwa, lebih dari 80 persen atau sekitar 230 juta penduduknya telah aktif menggunakan internet.
 
Pertumbuhan ekonomi digital (Gross Merchandise Value/GMV) internet Indonesia tercatat mencapai 135 miliar dolar pada tahun lalu, dan diprediksi akan meroket hingga 350 miliar dolar pada tahun 2030, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara.
 

Regulasi dan Tantangan Pajak 23 Persen

Meski pasarnya tumbuh subur, para pelaku industri data center di Indonesia masih menghadapi tantangan regulasi dan birokrasi yang cukup pelik. IDPRO menyoroti adanya ketimpangan jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia (Johor Bahru) dan Thailand.
 
Di Indonesia, para pelaku usaha harus menghadapi alur birokrasi yang melibatkan minimal sembilan institusi berbeda. Pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) di dalam kota Jakarta, misalnya, memerlukan waktu sekitar 7 hingga 9 bulan karena detail desain teknis yang sangat kompleks.
 
Selain itu, belum adanya insentif fiskal untuk mendatangkan server AI membuat para pelaku industri harus menanggung beban pajak dan bea masuk hingga 23 persen. Kondisi ini kontras dengan Malaysia yang memiliki lembaga satu pintu seperti MDEC atau Thailand dengan OSOS yang memberikan pembebasan pajak dan kemudahan investasi.
 
Dampak dari perbedaan regulasi ini sempat dirasakan pada pelonggaran aturan melalui PP No. 71 Tahun 2019. Akibat data privat diperbolehkan disimpan di luar negeri, data center untuk 120 juta pengguna TikTok di Indonesia justru ditempatkan di Johor Bahru, Malaysia.
 

Transisi Teknologi Pendingin

Masuknya era AI mengubah arsitektur fisik data center. Jika pada periode 2012–2017 sebuah rak server rata-rata hanya membutuhkan daya 3 kW, kini server AI modern yang menggunakan GPU padat (seperti NVIDIA GB200) membutuhkan daya hingga 120 kW per rak. Bahkan, server generasi terbaru yang keluar pada kuartal ketiga tahun ini diprediksi membutuhkan pasokan daya mencapai 600 kW per rak.
 
Lonjakan kepadatan daya (density) ini memicu panas ekstrem, sehingga sistem pendingin udara konvensional (room cooling) tidak lagi efektif. Menjawab tantangan ini, Ariffa Hasanah, System and Solution Architect Engineer dari Schneider Electric Indonesia, menjelaskan bahwa industri global kini beralih ke teknologi pendingin cair (liquid cooling).
 
"Schneider Electric telah bekerja sama secara resmi dengan NVIDIA dalam merancang arsitektur fisik data center modern. Kami baru saja mengakuisisi Motive Air pada Februari lalu, yang merupakan penyedia sistem pendingin untuk 6 dari 10 superkomputer tercepat di dunia."
 
"Produk terbaru kami mampu mengalirkan cairan pendingin langsung ke atas perangkat chipset (direct-to-chip) dengan kapasitas pendinginan unit tunggal mencapai 2,3 Megawatt," ujar Ellya Cen, Business VP Data Center, Schneider Electric Indonesia.
 

Krisis Tenaga Ahli Lokal dan Komitmen Hijau

Akselerasi teknologi yang terlalu cepat ini sayangnya belum diimbangi oleh ketersediaan sumber daya manusia yang memadai di dalam negeri. Industri data center di Indonesia saat ini tengah mengalami krisis tenaga ahli atau talent war, di mana fenomena saling membajak karyawan bersertifikat marak terjadi antar-perusahaan.
 
Mengantisipasi serbuan tenaga kerja asing dari India dan Bangladesh, perusahaan lokal kini mulai aktif bekerja sama dengan universitas ternama seperti Universitas Indonesia (UI) dan ITB untuk menyusun kurikulum khusus data center pada jurusan Teknik Elektro dan Teknik Mesin.
 
Tantangan besar lainnya adalah ketersediaan energi bersih dan air. Mengingat liquid cooling mengonsumsi jutaan liter air bersih per bulan, pemanfaatan air harus dikelola dengan bijak agar tidak merusak lingkungan sekitar.
 
Pihak IDPRO terus mendorong PLN untuk meningkatkan bauran energi terbarukan. PLN sendiri telah berkomitmen bahwa 76 persen dari pasokan energi baru dalam lima tahun ke depan akan bersumber dari pasokan hijau (green supply) demi mewujudkan operasional data center yang berkelanjutan di Indonesia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA