Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN menyoroti pentingnya kolaborasi internasional, khususnya dengan Korea Selatan melalui Seoul National University, untuk memperkuat kebijakan dan jejaring regional.
Urbanisasi di ASEAN diperkirakan akan menambah sekitar 70 juta penduduk perkotaan pada 2030. Kondisi ini menuntut perencanaan kota berbasis data yang adaptif. Namun, BRIN mencatat masih ada tantangan besar, seperti kesenjangan antara pelatihan dan implementasi kebijakan, jejaring kolaborasi yang belum berkelanjutan, serta keterbatasan data untuk evaluasi jangka panjang.
Melalui penelitian dalam program ASEAN Smart City Professional Program (ASPP), BRIN menganalisis efektivitas pembelajaran kebijakan, adaptasi kelembagaan, dan pembentukan jaringan kolaborasi lintas negara. Pendekatan riset ini mengintegrasikan kerangka policy transfer, knowledge transfer, dan analisis jejaring sosial untuk memahami dinamika kerja sama regional.
“Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas transfer pengetahuan melalui program seperti ASEAN Smart City Professional Program (ASPP), khususnya dalam mendorong pembelajaran kebijakan, adaptasi kelembagaan, dan pembentukan jaringan kolaborasi jangka panjang,” ujar Peneliti PRSDI BRIN, Dany Pambudi.
Selain itu, BRIN juga mengembangkan basis data mobilitas dan energi rumah tangga untuk mendukung sistem berbasis kecerdasan buatan (AI). Inisiatif ini diharapkan mampu membantu pengurangan emisi, efisiensi energi, serta optimalisasi mobilitas perkotaan.
Keberhasilan smart city di ASEAN, menurut BRIN, tidak hanya bergantung pada pelatihan, tetapi juga kesiapan institusi, adaptasi kebijakan, dan ekosistem data yang kuat. Hasil riset ini diharapkan dapat menghasilkan pemetaan jejaring kolaborasi, pilot project, serta rekomendasi kebijakan yang mendukung transformasi digital dan pembangunan berkelanjutan di kawasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News