OpenAi. (Sumber: youtube/ OpenAI)
OpenAi. (Sumber: youtube/ OpenAI)

Satu Prompt AI Butuh Berapa Air? Ini Rinciannya

Mohamad Mamduh • 21 September 2026 19:38
Ringkasnya gini..
  • Konsumsi air akibat penggunaan prompt AI diperkirakan melonjak pesat hingga mencapai triliunan liter pada dekade ini.
  • Pembuatan media visual berbasis AI membutuhkan konsumsi air yang jauh lebih besar dibandingkan prompt teks biasa.
  • Perbedaan estimasi konsumsi air dipengaruhi oleh metodologi pemetaan serta faktor efisiensi pendinginan server Big Tech.
Jakarta: Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini telah menjadi bagian dari aktivitas harian masyarakat. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, terdapat konsekuensi lingkungan yang cukup signifikan, salah satunya adalah tingginya konsumsi air untuk mendukung operasional pemrosesan prompt AI.
Melansir Memeburn, pemanfaatan perangkat AI secara operasional pada 2025 diperkirakan menyedot sekitar 300 hingga 700 miliar liter air. Angka konsumsi air tersebut diproyeksikan melonjak drastis hingga menyentuh 9,3 triliun liter pada 2030 mendatang.
 

Penggunaan Air dalam Satu Prompt


Besaran air yang dibutuhkan dalam satu kali interaksi prompt bervariasi bergantung pada jenis platform. Studi internal Google pada Mei 2025 mencatat bahwa rata-rata satu prompt teks pada aplikasi Gemini mengonsumsi 0,26 mililiter air dan daya energi sebesar 0,24 Watt-hour (Wh).

Sementara itu, CEO OpenAI Sam Altman mengklaim satu prompt di ChatGPT rata-rata mengonsumsi 0,32 mililiter air. Ia mengilustrasikan bahwa sebanyak 38.000 kueri di ChatGPT secara kumulatif membutuhkan volume air yang setara dengan pemeliharaan satu buah kacang almond di California.

Konsumsi air tercatat jauh lebih tinggi pada pemrosesan AI berbasis media. Proses pembuatan satu gambar berbasis AI diperkirakan menghabiskan 29 mililiter air, sedangkan pembuatan video berbasis AI mengonsumsi hingga 4,1 liter air.
 

Lonjakan Konsumsi Air Perusahaan Big Tech dan Tantangannya


Kebutuhan sumber daya ini berdampak langsung pada lonjakan konsumsi air perusahaan teknologi raksasa (Big Tech). Alphabet (Google) mencatatkan kenaikan penggunaan air yang cukup tajam dari 3 juta galon menjadi 10 juta galon pada 2025.

Kondisi serupa terjadi pada Microsoft yang konsumsi airnya meningkat dari 4.000 megaliter menjadi 8.000 megaliter. Di sisi lain, Meta membukukan konsumsi air mencapai 3.000 megaliter pada 2024.

Perbedaan angka estimasi konsumsi air di masyarakat umumnya disebabkan oleh variasi metodologi pemetaan. Sebagian studi hanya menghitung sistem pendinginan langsung di lokasi (on-site), sementara studi lain mencakup penggunaan air tidak langsung dari pembangkit listrik (off-site), hingga perhitungan menyeluruh atas rantai pasokan manufaktur cip dan perangkat keras (lifecycle).

Selain metodologi, besaran konsumsi air riil sangat bergantung pada berbagai faktor teknis dan lingkungan. Efisiensi server, lokasi geografis pusat data, kondisi cuaca lokal, jenis sistem pendinginan, serta bauran sumber energi listrik menjadi variabel utama yang menentukan tingkat penggunaan air di setiap pusat data.

 
(Nur Aldiansyah Amirulloh)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA