ASEAN Business Lead Seagate Technology, Joyce Lim.
ASEAN Business Lead Seagate Technology, Joyce Lim.

Teknologi Penyimpanan Data Dibutuhkan oleh Perkembangan AI

Cahyandaru Kuncorojati • 04 November 2024 08:05
Singapura: Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence menjadi pembicaraan yang menarik di mana-mana, tapi tanpa hadirnya teknologi lain maka mustahil bagi AI bisa bertumbuh, misalnya teknologi penyimpanan data atau data storage.
 
Hal ini disampaikan oleh berbagai pihak dalam diskusi panel acara ‘Cloud Expo Asia’ ketika membahas kebutuhan data storage untuk perkembangan atau skalabilitas kemampuan AI.
 
“Kita tahu bahwa saat ini data adalah sebuah business currency dan menjadi tulang punggung AI. Data dan AI secara simultan saling berkontribusi terhadap satu sama lain. Saat bicara Gen AI ini artinya AI membutuhkan data yang sangat banyak untuk menghasilkan data baru,” tutur ASEAN Business Lead Seagate Technology, Joyce Lim.

Seagate diketahui merupakan pemain industri dan solusi data storage yang cukup lama di bidang teknologi terutama komputasi. Joyce menuturkan bahwa teknologi Generative AI (Gen AI) sendiri akan mendorong kebutuhan data storage semakin besar.
 
Pertama adalah konten yang semakin kaya. Gen AI kini bisa menciptakan konten yang sangat kaya. Kedua adalah replikasi. 
 
“Pada alur kerja AI saat ini sangat penting untuk memiliki banyak checkpoint untuk memastikan data yang digunakan AI, hingga nanti bisa dicek kembali atau ditelusuri jika ada sesuatu yang janggal, hal ini penting untuk meningkatkan akurasi AI terutama ketika pengujian model,” jelasnya
 
Ketiga menurut Joyce adalah data retention atau penyimpanan data untuk jangka waktu periode yang panjang. Misalnya, data riwayat transaksi tiap konsumen yang kemudian bisa dimonetisasi untuk AI menyediakan kemampuan mengetahui kebiasaan atau selera konsumen.
 
Rick Goh dari A Star Computing & Intelligence Director IHPC menambahkan bahwa data yang digunakan untuk melatih kemampuan AI saat ini seperti ChatGPT sekalipun butuh data yang banyak dan berukuran besar.
 
“Misalnya bagaimana sebuah AI bisa mengenali bahwa objek ini adalah kucing, hingga AI bisa mengenali setiap bagian tubuh kucing dengan akurat, contoh, pada sebuah foto orang ada tampilan ekor kucing di belakangnya. AI pasti butuh banyak data untuk bisa mengenali bagian detail kecil tersebut,” kata Rick Goh.
 
“Kemampuan deep learning ini hadir dari hasil belajar ratusan gigabyte hingga terabyte data bahkan petabyte yang dikompresi. Jika saat ini orang menggunakan GPU untuk melatih AI maka semakin banyak GPU yang dibeli dan dilatih untuk jadi otak AI maka semakin besar kebutuhan data storage yang harus disediakan,” jelas Rick Goh.
 
Senior Engineering Director Supermicro, Benedict Khoo menambahkan bahwa dengan kebutuhan data storage tersebut maka penting bagi mereka yang mengembangkan AI untuk bisa menemukan  solusi penyimpanan data yang cost-effective, untuk menyimpan begit banyak data mentah yang akan diolah.
 
“Pertama menentukan di mana data tersebut ditentukan, tentunya kita harus memisahkan di mana data mentah (raw) disimpan dan data yang bisa diakses dengan cepat untuk digunakan AI. Hal ini kemudian juga berkaitan dengan kecepatan akses dari penyimpanan data oleh AI,” kata Benedict.
 
“Makanya ini berkaitan dengan yang dikatakan Joyce mengenai checkpoint, data storage atau penyimpanan data harus bisa digunakan sebagai AI model dilatih agar tingkat akurasinya meningkat. Apalagi jika AI yang dilatih memiliki banyak model di banyak GPU, kebutuhan kapasitas data storage tidak lagi di skala terabyte tapi lebih besar lagi,” jelasnya.
 
Melihat itu semua, Joyce menyebut beberapa hal yang harus disiapkan dalam merancang infrastruktur AI. Pertama adalah kemampuan untuk scale-up atau skalabilitas, karena data saat ini bertumbuh sangat eksponensial, apalagi dengan GPU yang saat ini memiliki performa sangat cepat untuk AI training model.
 
“Selanjutnya adalah latensi rendah dan kecepatan transfer yang memungkinkan AI bisa bekerja dengan mengakses data dengan cepat ke begitu banyak data yang dimiliki. Tidak ketinggalan, adalah biaya kepemilikan atau Total Cost Ownership dari penyimpanan data yang harus diperhitungkan dalam hal operasional,” kata Joyce.
 
Joyce mengingatkan bahwa biaya tersebut sangat penting untuk memastikan kelangsungan bisnis, bagaimana kita bisa memiliki kapasitas penyimpanan data yang lebih besar dalam dimensi ukuran yang tetap sama. 
 
“Seagate Mozaic 3+ menyediakan kapasitas penyimpanan lebih besar pada ukuran disk drive yang tetap sama, dan di sisi lain memiliki konsumsi daya lebih rendah. Selain menguntungkan bisnis, mereka juga bisa mencapai target sustainability seperti nol emisi jejak karbon,” jelasnya.
 
Mozaic 3+ menghadirkan inovasi penyimpanan data berbasis hard disk drive lewat heat-assisted magnetic recording (HAMR) dan teknologi nanoscale untuk menghadirkan tambahan ruang penyimpanan hingga 3TB pada tiap plat atau piringan di dalam hard disk drive.
 
Secara tidak langsung, dengan ukuran hard disk drive yang sama kini bisnis (enterprise) seperti yang memiliki fasilitas server atau data center bisa punya kapasitas memori lebih besar tanpa harus menambahkan atau mengubah rack atau penopang disk drive.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA