Dalam skema ini, para penipu membeli aplikasi-aplikasi populer dari para developer melalui perusahaan yang disebut "We Purchase Apps".
Kepemilikan aplikasi-aplikasi itu lalu dipindahkan ke perusahaan-perusahaan palsu yang akan bertanggung jawab atas aplikasi itu. Pada saat yang sama, perusahaan akan melacak dan menganalisa kegiatan pengguna.
Data pengguna kemudian akan digunakan untuk memprogram sekumpulan bot yang akan meniru perilaku pengguna. Dengan begitu, sang penipu akan bisa mendapatkan uang dari view dan penggunaan aplikasi palsu.
Dengan meniru perilaku pengguna asli, para penipu bisa menghasilkan trafik palsu yang tidak terdeteksi oleh sistem deteksi penipuan.
Menurut laporan The Verge, para penipu berhasil mendapatkan jutaan dollar dari perusahaan yang membayar untuk menampilkan iklan pada aplikasi melalui jaringan iklan aplikasi, termasuk jaringan milik Google sendiri.
Para penipu ini memang cerdik, menggunakan trafik dari pengguna asli untuk menyamarkan kegiatan bot.
Buzzfeed telah melaporkan temuan mereka pada Google. Perusahaan pencarian itu mengatakan bahwa mereka telah menghapus beberapa aplikasi yang terlibat dalam skema ini dari Play Store dan jaringan iklan mereka.
Meskipun begitu, ada beberapa aplikasi -- seperti EverythingMe, aplikasi dengan lebih dari 20 juta unduhan -- masih ada di Play Store.
Dalam laporannya, Google memperkirakan bahwa kerugian yang diderita para pengiklan mencapai USD10 juta.
Angka ini mungkin sebenarnya jauh lebih besar. Pixalate, perusahaan pendeteksi penipuan, memperkirakan bahwa satu aplikasi bisa membuat satu pengiklan menderita kerugian sebesar USD75 juta per tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News