BINUS School of Computer Science raih peringkat 2 Indonesia versi QS 2026 dan fokus cetak talenta AI serta cybersecurity.
BINUS School of Computer Science raih peringkat 2 Indonesia versi QS 2026 dan fokus cetak talenta AI serta cybersecurity.

BINUS Computer Science Peringkat 2 Indonesia versi QS 2026, Cetak Talenta AI dan Cybersecurity

Cahyandaru Kuncorojati • 21 Mei 2026 17:25
Ringkasnya gini..
  • School of Computer Science BINUS meraih posisi kedua terbaik di Indonesia versi QS 2026.
  • BINUS fokus menyiapkan talenta AI, cloud, dan cybersecurity sesuai kebutuhan industri digital.
  • Indonesia diproyeksikan kekurangan tiga juta talenta digital pada 2030 meski adopsi AI terus meningkat.
Jakarta: BINUS University melalui School of Computer Science meraih posisi kedua terbaik di Indonesia dalam QS World University Rankings by Subject 2026 untuk bidang Computer Science and Information Systems. 
 
Pencapaian tersebut datang di tengah meningkatnya kebutuhan talenta digital di Indonesia, terutama di bidang AI, cloud computing, dan keamanan siber.
 
Melalui informasi resmi yang dibagikan, BINUS menyoroti kondisi Indonesia yang kini menjadi salah satu negara dengan tingkat adopsi AI tertinggi di dunia. 

Sebanyak 92 persen pekerja berpengetahuan disebut sudah menggunakan AI generatif dalam aktivitas kerja sehari-hari. Namun di sisi lain, Indonesia juga diproyeksikan mengalami kekurangan hingga tiga juta talenta digital pada 2030.
 
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan adanya kesenjangan antara cepatnya adopsi teknologi dan kesiapan SDM yang mampu membangun maupun mengelola teknologi tersebut secara langsung.
 
BINUS menilai tantangan utama saat ini bukan lagi sekadar jumlah lulusan teknologi, tetapi kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri yang berubah cepat.
 
Mengacu pada laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum, bidang seperti AI, big data, dan keamanan siber menjadi sektor dengan pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja tercepat dalam beberapa tahun ke depan.
 
Dalam siaran pers tersebut juga disebutkan sekitar 30 persen perusahaan di Indonesia masih kesulitan mendapatkan talenta digital berkualitas tinggi meski jumlah pelamar cukup banyak.
 
Industri kini disebut lebih membutuhkan individu yang mampu membangun sistem AI, merancang arsitektur cloud, mengamankan infrastruktur digital, dan menerjemahkan teknologi ke kebutuhan bisnis.
 
Karena itu, pendekatan pendidikan teknologi juga mulai bergeser dari sekadar coding dasar menuju pengembangan kemampuan problem solving dan implementasi teknologi di dunia nyata.
 

BINUS Fokus ke AI-Driven Development dan Dunia Industri

School of Computer Science BINUS menyebut mereka mulai mengarahkan kurikulum ke kebutuhan teknologi modern seperti AI-Driven Development dan cybersecurity.
 
Kurikulum tersebut dikembangkan bersama lebih dari 2.200 mitra industri aktif agar materi pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja digital yang terus berubah.
 
Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, S.Kom., MTI selaku Dean School of Computer Science BINUS University mengatakan mahasiswa tidak hanya belajar teori teknologi, tetapi juga dibiasakan menghadapi tantangan seperti engineer profesional.
 
“Kami tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis. Kami ingin membentuk talenta yang mampu memimpin transformasi digital dan menciptakan inovasi,” ujar Prof. Derwin Suhartono.
 
BINUS juga menyebut mahasiswa sudah mulai diperkenalkan pada implementasi AI secara praktis selama kuliah, termasuk lewat akses layanan AI yang terintegrasi dalam ekosistem kampus.
 
Selain itu, kerja sama dengan Apple dan Microsoft disebut membantu mahasiswa lebih dekat dengan standar industri teknologi global.
 

QS 2026 Jadi Tolok Ukur Kualitas Lulusan Teknologi

Menurut BINUS, posisi kedua terbaik di Indonesia dalam QS World University Rankings by Subject 2026 bukan hanya soal kualitas akademik, tetapi juga pengakuan industri global terhadap kompetensi lulusannya.
 
Pemeringkatan tersebut mencakup berbagai indikator seperti Research and Discovery, Global Engagement, dan Employability. Aspek employability sendiri disebut mencerminkan tingkat kepercayaan rekruter dan industri terhadap lulusan perguruan tinggi.
 
BINUS juga mengungkap sekitar 80,1 persen lulusan sarjana mereka sudah bekerja saat lulus, sementara 36,2 persen terserap di perusahaan global.
 
Menurut Prof. Derwin, industri saat ini tidak lagi memiliki banyak waktu untuk melatih ulang lulusan baru dari nol.
 
“Industri tidak punya waktu untuk mendidik ulang lulusan baru. Yang kami pastikan adalah bahwa mahasiswa kami sudah pernah menghadapi kompleksitas itu selama kuliah, sebelum hari pertama mereka bekerja,” jelasnya.
 
BINUS menyebut alumni School of Computer Science kini bekerja di berbagai bidang teknologi seperti software engineer, AI engineer, data scientist, cybersecurity specialist, product manager.
 
Alumni tersebut tersebar di perusahaan teknologi nasional maupun multinasional di berbagai negara, termasuk Singapura, Amerika Serikat, Belanda, dan Australia.
 
BINUS menilai kebutuhan tiga juta talenta digital pada 2030 menjadi tantangan besar yang membutuhkan institusi pendidikan dengan kurikulum yang mampu mengikuti perkembangan teknologi secara cepat.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA