Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat sekitar 139 juta masyarakat Indonesia aktif menggunakan media sosial. Angka ini menunjukkan hampir setengah populasi terpapar arus konten digital setiap hari, termasuk anak-anak usia dini.
Di tengah pola konsumsi tersebut, muncul kekhawatiran baru terkait dampak kognitif dan perilaku pengguna.
Apa Itu Popcorn Brain?
Psikolog Rika Kristiani menjelaskan bahwa popcorn brain merupakan analogi dari proses jagung yang “meletup” menjadi popcorn, yaitu cepat, intens, dan berpindah-pindah.“Kalau kita menonton, atau menyaksikan sesuatu dalam waktu lama itu bisa jadi membosankan, dan kita memilih untuk mengganti tontotan atau apapun yang mau kita baca begitu,” ujarnya.
Dalam konteks teknologi, kondisi ini dipicu oleh konsumsi konten singkat seperti video pendek, scrolling cepat, hingga berpindah topik secara instan.
Kebiasaan mengonsumsi konten cepat ini berdampak langsung pada cara otak bekerja. Pengguna menjadi lebih sulit untuk mempertahankan fokus dalam aktivitas yang membutuhkan waktu panjang, seperti belajar atau bekerja.
Rika menyebut kondisi ini dapat membuat seseorang lebih mudah merasa bosan dan frustasi saat menghadapi proses yang membutuhkan kesabaran.
“Karena proses itu takes time, akhirnya lebih mudah frustasi ketika menghadapi kesulitan,” jelasnya.
Selain itu, secara emosional, individu dengan popcorn brain cenderung tidak sabar, mudah marah, cepat kecewa, dan cenderung memilih solusi instan.
Efek Lebih Besar di Era Platform Digital
Fenomena ini semakin relevan di era platform seperti video pendek dan feed berbasis algoritma. Sistem ini dirancang untuk terus memberikan stimulus baru dalam waktu singkat, sehingga memicu otak untuk selalu mencari “dopamin cepat”.Dalam jangka panjang, pola ini dapat mengubah kebiasaan pengguna dalam mengonsumsi informasi, dari yang mendalam menjadi serba cepat dan dangkal.
Dampak popcorn brain dinilai lebih serius pada anak-anak. Paparan konten cepat sejak usia dini berpotensi mempengaruhi perkembangan fokus dan kontrol emosi.
Untuk itu, penggunaan gadget perlu dibatasi. Rika menyarankan anak usia dini idealnya hanya menggunakan perangkat digital maksimal sekitar 1 jam per hari, bahkan lebih baik jika dibatasi 30 menit.
Selain itu, aktivitas fisik juga penting untuk menjaga keseimbangan kognitif dan meningkatkan kemampuan fokus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News