Apple secara resmi mengetahui permasalahan tersebut namun situasi ini mendorongnya mengembangkan solusi karyanya untuk mencegah permasalahan serupa kembali terjadi di masa mendatang.
Mengutip GSM Arena, Mark Gurman melaporkan Apple telah mengembangkan perangkat serupa pad karyanya, berkemampuan melakukan update iPhone yang masih tersegel sejak didistribusikan dari pabrik dan sebelum dijual ke konsumen secara nirkabel.
Berdasarkan informasi yang beredar, mesin ini berkemampuan mengaktifkan iPhone secara nirkabel, melakukan update software iPhone tersebut ke iOS versi terbaru, dan kemudian menonaktifkan kembali iPhone tersebut.
Apple berencana untuk merilis mesin berkemampuan melakukan update software baru ini ke toko distributor mitranya sebelum tahun 2023 berakhir. Sebelumnya, Tiongkok juga merupakan pasar iPhone mengingat cabang manufaktur Apple juga ada di sana.
Sayangnya, justru iPhone 15 ternyata kurang disukai dibandingkan iPhone 14 menurut data penjualan. Baru ini firma riset Counterpoint telah merilis data hasil pengamatan penjualan iPhone 15 di Tiongkok.
Mereka mengklaim bahwa penjualan iPhone 15 periode 17 hari sejak penjualan perdana cukup lesu dibandingkan era iPhone 14. Penjualan iPhone 15 di Tiongkok pada periode tersebut dilaporkan lebih rendah 4,5 persen dibandingkan saat iPhone 14.
Sementara itu, Apple berupaya mengurangi biaya produksi antara USD1.500 (Rp23,6 juta) hingga USD2.500 (Rp39,3 juta) untuk Vision Pro versi terjangkau karyanya ini. Apple Vision Pro, dipersiapkan untuk mulai didistribusikan pada awal tahun 2024 mendatang, saat ini dipasarkan seharga USD3.500 (Rp55,1 juta).
Pada laporan sebelumnya, Gurman menyebut Vision Pro versi lebih terjangkau juga akan didukung layar internal beresolusi lebih rendah. Apple juga diindikasikan akan menghilangkan layar eksternal yang memungkinkannya menggunakan fitur EyeSight.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News